Lahir
sebagai anak terakhir dari tiga bersaudara membuat saya merasa beruntung. Saya beruntung
karna memiliki kakak perempuan dan kakak laki-laki. Saya beruntung karena saya
bisa banyak belajar dari mereka berdua. Sebagai adik terakhir yang manja, saya
dekat dengan kedua kakak saya. Hampir setiap hari saya menghabiskan waktu
dengan bermain atau menonton tivi dengan kakak laki-laki saya karena kakak
perempuan saya tinggal bersama nenek. Meski jarang bertemu, saat remaja hingga
dewasa kami menjadi semakin akrab. Maklum saja, dua remaja yang beranjak
dewasa. Banyak hal-hal baru yang kami perbincangkan. Banyak hal baru yang kami
pelajari lalu diskusikan. Salah satunya adalah masalah jodoh atau percintaan. Saya
dan kakak perempuan saya sama dalam banyak hal, terutama dalam hal pemikiran. Pernah
suatu kali kami membicarakan masalah pernikahan. Diawali dengan menginggat
cerita rumahtangga beberapa orang, saudara, teman, dan bahkan orangtua kami sendiri. Dari
cerita rumahtangga mereka, semua penuh dengan perjuangan, dan tanggisan. Kami
sama-sama tahu bahwa pada setiap kebahagiaan akan selalu ada celah bagi
kesedihan untuk masuk di antaranya, seindah-indahnya suatu pernikahan pastilah
ada celah bagi kesedihan untuk masuk di dalamnya. Oleh sebab itu, kami
berkomitmen untuk memilih suami yang tepat, suami yang tepat bagi kami adalah suami
yang benar-benar kami cintai dengan tulus. Karena kami percaya, saat kami
benar-benar mencintai pasangan kami maka kami akan bertahan sekuat tenaga dalam
hubungan tersebut. Apapun yang dilakukan suami nantinya, jika cinta pastilah
kami mampu memaafkan. Begitu pikir kami..
Sekarang
kakak peempuan saya sudah menemukan jodohnya, saya turut berbahagia. Semoga lelaki
ini adalah lelaki yang mampu membuat kakak saya bertahan menghadapi segala
cobaan yang ada di depannya. J aminnn