Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Desember 2013

STEVANNIE



“Hai, namaku Stevannie. Namamu siapa?” tanya seorang gadis berambut pirang yang sedang duduk disampingku.
“Aku Laras.” Jawabku pelan.
“Nice to meet you” ucapnya sambil menyodorkan tangannya padaku. Aku tersenyum padanya dan membalas jabat tangannya.
Tangan itu terasa begitu halus, sepertinya dia bukan gadis yang terbiasa melarat seperti aku. Dari paras wajahnyapun sudah tergambar jelas bahwa dia cewek blasteran kaya yang hidup serba berkecukupan.
“Lagi nunggu mobil jemputan ya non?” tanyaku
“No” jawabnya singkat.
“Terus kenapa kamu ada di sini, atau lagi nunggu temen ya?”
“I don’t know. Kenapa aku ada disini.”
Aku mengernyitkan keningku mendengar jawabannya. Cewek ini emang beneran gak tau atau sengaja mau bikin aku binggung ya? Terserahlah, peduli amat.
“Kalau kakak, sedang apa di sini?” Dia balik bertanya kepadaku.
“Oh, aku sedang jualan gorengan. Kamu mau?”
Tanpa sungkan stevannie langsung mengambil sebuah gorengan dan memakannya.
“Harganya 500 perak.” Timpalku. Tapi dia sama sekali tidak menghiraukan ucapanku itu.
“Hmmm… baiklah yang satu itu gratis buat kamu, anggap saja sebagai tanda perkenalan kita” sebenernya sih aku tidak rela memberikan gorengan itu gratis untuknya, meskipun Cuma 500 perak tapi dia itukan anak orang kaya, masak 500 perak aja gak dibayar.
Kuperhatikan lamat-lamat gadis itu. Kira-kira umurnya 14 tahun, seperantaran denganku. Dia cantik, manis, kulitnya putih, rambut pirangnya yang panjang terurai dengan indah. Baju yang sedang dipakainyapun sangat bagus, maklum saja, dia memang anak orang kaya. Andai saja aku terlahir seperti dia, pasti aku akan merasa sangat bahagia.
“Kenapa kakak tidak sekolah seperti mereka?” tanyanya sambil menunjuk segerombolan anak SMP yang baru pulang sekolah.
“Aku sekolah, aku sudah pulang dari tadi kok. Pulang sekolah aku langsung jualan gorengan di pinggiran taman ini.
“Kenapa kakak kerja? Apa ayah kakak tidak memberi uang?”
“Ayahku sudah gaka ada, jadi ya aku harus bantu ibuku untuk cari uang buat biaya sekolah aku dan adik-adikku.”
“Hidup kakak tidak bahagia ya?”
Aku mengangguk “Kamu sih beruntung, tinggal minta langsung dikasih, kalau aku harus kerja dulu baru dapet uang.”
“Kakak juga beruntung lho, kakak masih bisa sekolah. Aku pengen sekolah, tapi ayahku tidak mengizinkan.”
“Lho kenapa?” tanyaku heran
Stevannie terdiam beberapa saat.
“Ngomong-ngomong ayahmu kerja apa?”
“Aku gak ngerti, yang aku tau ayahku selalu pergi kerja setiap hari.”
“Ibumu?”
“Ibu juga kerja.”
“Terus siapa yang menemani kamu dirumah?”
“Gak ada, aku anak tunggal, gak ada yang menemani aku. I feel so sad, so lonely.”
“Ternyata kamu gak seberuntung yang kukira.”
Stevannie tersenyum padaku.
“Dulu aku kira jadi anak orang kaya itu menyenangkan, gak perlu merasakan kesedihan karena susahnya mencari uang. Tapi nyatanya kamu anak orang kaya tapi malah merasa sedih karena punya ortu yang over-protektif dan kesepian.
“Kak Laras..”
“Iya, ada apa?”
Stevannie memegang erat tanganku “Maukah kakak menjadi temanku?”
Sekali lagi aku tersentak mendengar ucapannya.
“Tentu saja, kamu adalah temanku”
“Karena kakak temanku, maukan kakak menemani aku pergi?”
“Nanti, kalau daganganku ini sudah habis. Aku akan menemanimu. “
“Thanks you, kakak adalah teman pertamaku. Sejak dulu aku belum pernah punya teman.”
“Lho, kenapa? Kamu kan kaya, cantik, masa gak ada yang mau berteman dengan kamu?”
“Memang kenyataannya tidak ada satu orangpun yang mau berteman denganku dan ayahkupun selalu mengurungku dikamar.”
“Kasihan sekali, padahal kan kamu gadis yang baik. Terus kenapa ayahmu tega berbuat seperti itu sama kamu?”
Stevannie menggelengkan kepalanya. Kemudian dia mengambil sebuah gorengan lagi dan memakannya.
“Kamu pasti merasa sangat kesepian?”
Stevannie mengangguk. Kulihat matanya berkaca-kaca, aku merasa sangat iba kepadanya. Ternyata aku masih beruntung, selain punya seorang ibu yang selalu menjagaku, aku juga masih memiliki dua orang adik yang selalu bersamaku dan menemaniku. Walaupun kehidupanku serba kekurangan, tapi aku merasa cukup beruntung. Bahkan lebih beruntung dari Stevvanie.
“Mungkin, akan lebih baik jika kumati. Tapi, aku tidak mau mati sendirian, aku ingin ada seseorang yang menemaniku. Paling tidak saat aku mati aku tidak sendiri lagi.” Ucapnya pelan.
Aku tidak begitu menanggapi apa yang baru saja dikatakan oleh stevvanie. Mungkin pikirannya sedang kacau atau tertekan hingga dia bicara seperti itu. “Sudahlah Stevvanie, sekarang kan aku sudah jadi temanmu, aku janji kamu pasti gak akan pernah merasa kesepian lagi.”
“Apa kakak gak takut berteman denganku?”
“Tentu saja tidak, kenapa harus takut, kamu kan gadis yang baik.”
***
Hari sudah beranjak semakin sore, daganganku sudah habis terjual. Stevannie masih tetap setia menemani disampingku.
“Kamu mau menggajakku kemana?”
“Ke gedung itu!” jawabnya sambil menunjuk kearah gedung apartemen tua yang sudah tidak ada penghuninya.
“Kamu bercanda ya? Itukan gedung kosong, lagian disana itu tidak ada apa-apa dan tidak ada siapa-siapa. Kita ke tempat yang lain aja ya?”
Stevannie kembali terdiam. Sepertinya dia kecewa mendengar ucapanku. Aku langsung berfikir sejenak.
“Hmmm… baiklah aku mau”
Disepanjang perjalanan stevvanie hanya terdiam dan senyam senyum sendiri. Mungkin dia merasa sangat senang karena ada yang mau menemaninya jalan-jalan.
“Kenapa kamu mau mengajakku kesana?” tanyaku untuk kesekian kalinya. Tapi stevannie hanya membisu. Aku jadi semakin heran melihat tingkah lakunya.
Sesampainya kita tiba digedung itu, stevannie mengajakku menaiki tangga menuju lantai paling atas gedung itu. Awalnya aku sempat menolak ajakannya, namun akhirnya aku mau juga. Satu per satu aku naiki anak-anak tangga gedung berlantai sepuluh itu. Wuiihh, capek sekali.
Setelah kita sampai diatas, rasa penasaranku yang sejak tadi mengisi ruang otakku akhirnya terjawabkan. Didepanku terlihat sebuah pemandangan yang sangat indah. Pemandangan saat matahari tenggelam. Wow, indah sekali, mungkin ini yang ingin diperlihatkan Stevannie padaku.
Aku duduk sambil menikmati pemandangan ini. Kulihat Stevannie menghampiri tepian atap, lalu dia membentangkan kedua tangannya dan tersenyum bahagia. Aku turut senang melihat kebahagiaannya.
“Kak Laras, sini!” Panggil Stevannie.
Aku mendekat padanya, kemudian dia mencengkeram tanganku erat. Aku sama sekali tak mengerti maksudnya. Selangkah demi selangkah Stevannie membawaku semakin mendekati tepian gedung.
“Stevannie, apa yang akan kamu lakukan?”
“Aku tidak mau lagi kehilangan teman, aku ingin kakak berteman denganku. Selamanya.” Jawabnya polos
Seketika aku tersadar. Stevannie ingin bunuh diri. Aku langsung menarik tanganku dari genggamannya “Stevannie lepaskan tanganku!” Teriakku.
“Kak Laras bilang kakak mau jadi temanku dan mau menemaniku”
Kuraih sebuah tiang yang berdiri didekatku, lalu kupeluk erat. Stevannie menarikku semakin keras.
“stevannie… jangan…” teriak seorang ibu setengah baya dari belakang.
Stevannie terkejut lalu melepaskan genggaman tangannya dariku. Dia melompat kebawah sendirian. Aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikannya, aku sangat ketakutan. Aku hanya bisa memeluk tiang itu sekuat tenaga. Ibu itu berusaha meraih tangan Stevannie.
Tapi.. terlambat. Stevannie telah lenyap dari pandangan kami. Tak tersisa.
Isak tanggis menggelegar memecah keheningan. Nafasku terenggah-enggah, pikiranku kacau, semua terjadi dengan begitu cepat. Aku hampir tak percaya dengan apa yang baru saja aku alami.
Seketika itu datang seorang laki-laki bule yang berlari menuju ibu itu dan langsung memeluknya. Sambil mengucapkan kata-kata yang bisa menenangkan hati ibu itu.
Dan beberapa menit kemudian laki-laki itu menghampiri aku yang terlihat sangat kebinggungan dan ketakutan.
“I’m sorry for Stevannie, did she hurt you?”
Aku mengelengkan kepala lalu dia mengenggam tanganku.
“I don’t what exactly happened with my daughter, it’s must be something wrong in her mind, I didn’t recognize her at all. Ohh… I’m not the good father” ucapnya sambil berlinang air mata.
Stevannie mengalami gangguan jiwa sejak kecil. Tepatnya saat berumur 5 tahun dia tak sengaja menjatuhkan seorang sahabatnya dari atap apartemen itu hingga tewas. Berawal dari sanalah Stevannie jadi sering menyendiri. Tidak ada satu sekolahpun yang mau menerima Stevannie sebagai murid karena statusnya sebagai seorang pembunuh sudah terlanjur melekat padanya. Dan beberapa tahun terakhir ini, Stevannie selalu mengajak orang-orang disekitarnya untuk melompat dari atap apartemen itu, supaya dia bisa menyusul sahabatnya yang pernah terjatuh dari sana. Oleh karena itulah orangtuanya mengurung dan tidak mengizinkannya keluar dari kamar dan bertemu dengan siapa pun.
***
Sebulan kemudian orang tua Stevannie datang menemuiku disekolah. Mereka ingin menjadikanku sebagai anak angkat dan mengajakku tinggal bersama.
“We are not good parents, but we will try… for you” ucap mereka.
Aku merasa sangat senang sekali, bukan hanya karena kau akan merasakan bagaimana rasanya jadi anak orang kaya, tapi juga karena mereka bersedia membiayai sokolah kedua adikku dan yang berarti aku tidak perlu lagi bekerja setelah pulang sekolah.
“Thank you Stevannie, I feel so lucky to be your friend. And I will always be your friend no matter what.”
                                                                             



Janjiku untuk Indonesiaku


Pagi ini seperti biasa, mentari terbit sesuai jadwalnya. Suara kokok ayam jago jantan lantang memekik ditelinga. Menyeretku kembali dari dunia indah ciptaanku yang semalaman aku rangkai. Perlahan aku buka mata sipit ini, samar-samar telihat boneka teddy bear biru yang setia tersenyum disampingku, menjaga aku tiap malamnya. Meski berat melepas pelukan dari guling kesayangan, namun aku paksakan untuk bangun dari peraduan. Aku bangun, sedikit melakukan olahraga kecil sebagai perengangan, lalu merapikan tempat tidur kembali seperti semula. Aku buka candela kamarku yang langsung menghadirkan tontonan segar taman depan rumah, seketika suasana sejuk menyeruap masuk kedalam kamar. Mentari pun menembus masuk kedalam kamar, hangat dan sejuk beradu menciptakan suasana pagi yang luar biasa segar.
Dengan langkah gontai aku memasuki kamar mandi, berusaha menciptakan kesadaran penuh dalam diri. Seusai mandi, aku mengganti kostum dengan seragam sekolah putih abu-abu. Merapikan dan mengecek kembali buku pelajaran, memasukannya dalam tas. Sekali lagi aku memastikan didepan cermin, bahwa penampilanku sudah rapi. Setelah aku yakin sudah siap kesekolah, aku keluar dari kamar. Menyapa ibu dan bapak yang sudah menunggu dimeja makan dengan senyuman termanis. Dengan sigap aku lahap nasi goreng buatan koki terhebat dirumah ini, ibu. Setelah habis nasi goreng dan segelas susu yang sudah dihidangkan, maka aku pamit dan bergegas berangkat ke sekolah.
Hari ini aku mendapat mata pelajaran bahasa Indonesia. Mengawali pelajaran, pak Joni guru bahasa indonesiaku mengomentari cara kami mengunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi sehari-hari. Beliau bertanya pada kami apakah sebenarnya kami tau bagaimana bahasa Indonesia yang baik dan benar? Secara serempak kami pun menjawab “Tahu”. Kemudian beliau kembali menimpali, kenapa kami tidak mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari?. Kami terdiam. Dan selanjutnya pembicaraan berlanjut menjadi diskusi panjang yang menyenangkan. Beliau membuka kesadaran kami mengenai degradasi bahasa Indonesia yang terjadi saat ini. Ini merupakan imbas dari globalisasi yang semakin terasa dampaknya. Beliau membuka kesadaran kami mengenai pentingnya bahasa Indonesia yang merupakan identitas bangsa ini.

Siang ini, ada rasa berbeda menyeruak dihati. Mengusik pikiran ini. Melangkah  menyelusuri jalan yang biasa dilalui, namun kini tidak dengan perasaan seperti biasanya. Tanpa sadar bola mata ini mengamati sekeliling, memperhatikan gerombolan pemuda yang sedang asik ngobrol dengan bahasa khas remaja sekarang. “Hai bro, lo semalem kemana aja?”, ahh, lo kayak kagak tau aja bro.” dan lo gue lo gue serta bahasa alay lainnya terus keluar bertubi-tubi dari bibir mereka seperti sudah terbiasa. Mataku mulai menerawang, pikiran melayang. Dalam lamunan aku teringat semua ucapan pak Joni tadi. Yaa.. bahasa Indonesia memang telah bersetubuh dan terurai dengan bahasa-bahasa ajaib lainnya. Bahasa yang tidak tau dari mana datangnya dan mulai lazim digunakan. Dan pertanyaan tiba-tiba hadir, bagaimana nasib bahasa Indonesia kedepannya ya? Apakah kita rela kehilangan keaslian bahasa Negara kita ini. Seakan memberontak, aku berteriak lantang.. “Tidak”, dalam hati. Dengan angan yang masih melayang, aku membuat janji dengan diriku sendiri. Kelak aku ingin menyelamatkan Bahasaku, bahasa Indonesia. Janjiku juga pada Indonesiaku. J

Teruskanlah

"Selamat Pagi sayang. Selamat beraktivitas."

Sebuah pesan singkat samar-samar kubaca. Ku lirik jam wekker disamping tempat tidur. 05.30. Masih cukup pagi.
Kembali kupejamkan mata, membawa segala pertanyaan dan gejolak rasa yang ditimbulkan pesan singkat barusan.

Entah kapan kali terakhir pesan serupa aku terima. Pesan yang 6 bulan lalu tidak pernah telat dikirim. Pesan yang 6 bulan  lalu menjadi sajian hangat tiap pagi. Pesan yang 6 bulan lalu selalu menghadirkan sumber energi untuk menjalani rutinitas seharian.

Namun itu 6 bulan lalu. Sebelum cerita cinta yang kita jalin selama 3 tahun berujung pada keputusan "Long Distance". Tidak ada yang salah dengan pilihanmu mengejar cita-cita keluar kota. Toh jarak dari kota tempatmu melabuhkan mimpi tidak jauh dari kota kelahiran kita. Cuma butuh 6 jam perjalanan. Kupikir kita masih bisa bertemu, setidaknya sebulan sekali.

Dan ternyata semua tak semudah bayangan kita. Janji manis menjelma luka. Semua berubah. Hari-hari berjalan hambar. Tanpa panggilan sayang, tanpa perhatian, tanpa peluk cium nina bobok.

Mimpimu telah mengantikan posisiku. Tidak ada aku lagi di penglihatanmu, sentuhmu, senyummu, khayalmu, dan mungkin perlahan terhapus dari hatimu. Kamu terlalu sibuk dengan duniamu, dunia tanpa aku. Aku mulai tak mengenal sosokmu, kamu menjelma orang asing dimataku. 

Bisa dihitung, berapa kali kamu membalas pesan singkatku. Berapa kali kamu menelponku, berapa kali kamu menemuiku dalam 6 bulan terakhir ini. Dengan alih-alih sibuk, kamu terus menjauh. Selalu aku yang kamu anggap salah. Aku yang kamu tuduh tak mampu memahami kesibukanmu. Sungguh perih, bertahan tanpa arti.

Namun aku terus bersabar. Sabar menunggu detik dimana memorimu menggingat keberadaanku kembali.
"Sebagian orang berkata bahwa menunggu adalah perbuatan bodoh. mungkin orang-orang itu belum mengenal efek dari cinta."

Jika menunggu adalah cara terbaik untuk mendapatkan cintamu kembali, maka berapa lama aku harus melakukannya?

Agnes Monica, Teruskanlah.

Rabu, 11 Desember 2013

Cerita Cinta Dea

“Bruukk”. “Praaggg”.
“Aduh. Kalau jalan hati-hati donk!! Teriak Dea sambil memunggut Hpnya yang jatuh.
“Maaf, aku lagi buru-buru. Sekali lagi maaf”.
“Enak aja cuma bilang maaf. Hpku rusak gini dan kamu cuma bilang maaf. Ini Negara hukum tau!!” Dea terus meneriaki cowok berkaca mata yang ada didepannya.
“Ini kartu namaku, hubungi aja aku, nanti aku ganti biaya perbaikannya. Maaf banget, aku lagi buru-buru.” Cowok itu menyerahkan selembar kartu nama dan segera berlalu meninggalkan Dea yang masih terlihat geram.
Dea masih diam di tempat, saat bayang cowok itu menghilang dibelokkan. ‘Reza Firmansyah’. Dea mengeja nama yang tertera di kartu nama yang ada ditangannya. Mahasiswa sini ya? Kok aku gak pernah liat. Ya udahlah, yang jelas tuh cowok  udah bikin Hpku rusak. Tapi sebenernya tuh cowok manis juga. Ahh, apa-apaan sih aku ini.
***
“Kamu kemana aja sayang? Aku telpon nomer kamu gak aktif”. Tanya Remi cemas.
“Hpku rusak sayang. Kemaren jatuh”. Jawab Dea singkat sambil mengambil tempat di samping Remi.
“Ohh, ya udah. Nanti malam ada acara? Aku mau ngajak kamu makan malam”. Tanya Remi sambil mendaratkan ciuman manis ke punggung tangan Dea.
“Gak ada sayang”.
“Oke, nanti kamu dandan yang cantik. Pakai gaun yang kemaren aku beli’in. Jam 7 aku jemput kamu ke rumah”. Remi menatap mata Dea lekat dan tangannya masih menggegam erat tangan Dea.
“Emang kita mau makan malam dimana? Kenapa mesti pake gaun sih sayang?” Tanya Dea heran.
“Udah, kamu tenang ajah. Ini malam special buat kita.” Sekali lagi ciuman mendarat dipunggung tangan Dea.
***
Astaga.. Hari ini tanggal 13 Desember. Pantas saja Remi ngajak aku makan malam. Kenapa bisa lupa sih. Tapi hebat Remi masih inget hari jadian kita yang ketiga. Remi memang pacar yang sempurna dimataku.
Sudah tiga tahun sejak perkenalan kita dulu. Remi cowok yang masuk criteria tampan ini adalah kakak kandung temanku, Fitri. Dan dari Fitri juga aku kenal Remi. Remi baru saja menyelesaikan kuliahnya dan sekarang sedang mengurus beberapa Cafe yang dia dirikan bersama beberapa temannya. Selama jalan tiga tahun ini, Remi selalu memberi kesan baik padaku. Remi cowok yang romatis dan sabar, tentunya juga dewasa. Tapi Remi tidak membosankan seperti cowok dewasa kebanyakan. Meski aku yang emosional ini sering mudah marah, namun Remi tetap bersabar dan mampu meredam kemarahanku. Aku sangat menyayanggi Remi, dan sepertinya begitu juga dengan dia.
***

Alunan musik jazz beralun merdu saat aku dan Remi memasuki sebuah Cafe. Sepi, hanya ada beberapa pelayan yang menyambut kedatangan kami dan para pemain musik yang sedang asik memainkan musik jazz disana. Lampu remang-remang berhias cahaya lilin. Benar-benar suasana yang romanstis. Aku memandang Remi penuh takjub dan Remi hanya tersenyum manis sambil terus mengandeng tanganku.
Remi mempersilahkan aku duduk. Dan kami pun duduk berhadapan.
“I love you”. Sebuah kecupan mendarat di punggung tanganku.
“I love you too sayang. Thanks for all”. Jawabku memberikan senyum termanis yang aku punya.
Benar saja, seperti janji Remi. Malam itu menjadi malam terindah bagi kami.
***
Aku Dea, yang minggu lalu Hpnya kamu jatuhin.
*Send.
Tidak butuh waktu lama sampai pesan tersebut mendapat balasan.
Iya Dea, gmn Hpnya udah bisa? Gini aja nanti kita ketemu di Blue Cafe jam 3.
Kamu bisa?
Oke. Jawabku singkat.
Setelah pulang kuliah, aku langsung mampir ke Blue Cafe.
Seorang cowok berkaca mata terlihat dari candela kaca cafe sedang menyeruput kopi dari sebuah cangkir mungil. Dea segera menghampiri cowok tersebut. Cowok tersebut segera beranjak dan menyalami Dea.
“Reza” Ucapnya sambil menyodorkan tangan.
“Dea” Jawab Dea ketus.
Cowok tersebut tersenyum manis dan mempersilahkan Dea duduk. Ada rasa aneh menyelusup sejenak dalam hati Dea, namun Dea buru-buru menepisnya.
Pertemuan sore itu berujung pertemanan. Beberapa kali Reza mengantarkan Dea ke toko buku, atau sekadar minum kopi bersama di sore hari. Belakangan Dea baru tau kalau Reza sedang menjalani training menjadi pilot. Reza punya mimpi ingin mengajak orang yang dia cintai berkeliling dunia, itu sebabnya dia berusaha menjadi pilot.
***
Sialan, lagi-lagi telat. Pekik Dea dalam hati.
Dea berlari menyebrang jalan menuju kampusnya. Dan tiba-tiba…
Tiiiittttt…. Bruuukkkkkk……
Dea tersungkur dengan kepala penuh luka darah.
***
Gelap.
Dimana ini, aku ingin pulang. Aku takut. Tolong aku, tolong aku…
Perlahan Dea membuka mata. Bayang samar-samar ibunya terlihat. Namun semua hanya serupa bayang. Dea berusaha mempertajam pandangannya, namun sia-sia. Hanya bayang yang mampu tertangkap matanya.
“Dea sayang, kamu gak papa nak?” Suara bercampur isak ibu Dea penuh cemas.
“Bu, Dea gak bisa liat apa-apa bu. Semua gelap. Ibu Dea takut bu, Dea takut. Ini kenapa bu. Kenapa mata Dea bu.” Dea menanggis histeris meraba-raba mencari ibunya.
“Tenang sayang tenang. Ada ibu disini.” Ibu Dea berusaha menenangkan.
Arrrggghhhhhhhhhhhhh.
“Dea kenapa bu Dea kenapa?” Dea semakin berteriak histeris, air matanya tak henti berjatuhan.
***
Sejak keluar dari rumah sakit beberapa hari lalu, Dea menjadi semakin pendiam. Dea juga tidak mau menemui siapapun kecuali ibunya. Setiap harinya Dea hanya mangurung diri dikamar. Terus menanggisi takdir yang ia terima.
“Maaf Dea, kita udah gak bisa lagi. Maaf.”
Ucapan terakhir yang dia dengar dari Remi. Sejak tau bahwa Dea buta, Remi seperti berusaha menghindar dari Dea. Dea pun tidak bisa berbuat apa-apa, merelakan Remi pergi adalah jalan satu-satunya. Meski sungguh hati Dea hancur berkeping-keping. Setelah ia kehilangan penglihatannya sekarang ia juga kehilangan cinta dari orang yang ia cintai.
***
“Dea sayang, ada teman kamu datang.” Ucap ibu Dea, menghampiri Dea yang sedang duduk menghadap jendela kamar.
“Dea ingin sendiri bu.” Jawab Dea.
“Kamu gak boleh terus seperti ini sayang. Kamu harus mulai berusaha hidup normal. Namanya Reza, katanya dia sudah berkali-kali menghubungi kamu tapi gak ada jawaban. Lebih baik kamu temui dia.” Bujuk ibu Dea.
Ibunya benar, mau sampai kapan Dea begini. Dea pun mengangguk menyetujui saran ibunya.
“Hai Dea, apa kabar?” Seorang cowok memasuki kamar Dea.
“Seperti yang kamu lihat. Tidak cukup baik.” Jawab Dea datar.
“Aku bawa sesuatu buat kamu.” Cowok tersebut menaruh sebuah kotak diatas tangan Dea.
“Apa ini?” Tanya Dea.
Cowok tersebut pun membuka kotak, mengambil isinya dan mengalungkan sebuah syal berwarna merah marun ke leher Dea.
“Syal?” Dea meraba syal yang ada di lehernya.
“Iya syal berwarna merah, agar kamu terus merasa hangat dan berani menjalani hari-hari kamu kedepanya. Kamu gak sendiri Dea, gak akan pernah.” Cowok itu membelai rambut Dea dan mencium keningnya.
Hari-hari berikutnya, hanya Reza yang setia menemani Dea di sela-sela kesibukannya. Reza yang mampu membuat Dea kembali tegar dan menjalankan kembali kehidupan seperti dulu. Reza yang mengajarkan Dea untuk mengiklaskan segala sesuatunya, mempercayai bahwa Tuhan tau apa yang terbaik untuk hambaNya.
***
Hari ini Reza menemani Dea jalan-jalan di taman.
“Sore yang indah ya? Coba kamu rasakan hembusan angin, suara burung, dan tawa orang-orang disekitar kamu.” Reza memejamkan mata dan menarik nafas dalam-dalam.
Dea mengikuti saran Reza. “Iya. Sore yang indah, meski aku gak mampu melihat keindahannya, tapi setidaknya aku mampu merasakannya.” Jawab Dea dengan seulas senyum menghias bibirnya.
“Dea, ada yang ingin aku sampaikan.” Ucap Reza lembut dengan tangan mengenggam kedua tangan Dea.
“Apa?”
“Aku sayang kamu. Aku ingin kamu yang menemaniku berkeliling dunia. Kita akan merasakan keindahan dunia bersama.” Reza tampak serius.
Namun tak ada jawaban yang keluar dari bibir Dea, hanya air mata yang tiba-tiba merembes dari bola matanya.
“Kenapa kamu menanggis Dea? Kamu tidak suka aku berkata demikian?” Reza mengusap air mata yang meleleh di pipi Dea.
“Kamu tau aku gak sempurna. Kamu pantas dapat yang jauh lebih baik dari aku.” Jawab Dea menahan tanggis.
“Cinta itu sederhana Dea, kita cuma perlu merasakan dan mengikuti kata hati kita. Hati tau kemana ia harus berlabuh. Cinta gak nuntut kesempurnaan. Cinta akan mengenapi segala yang ganjil.” Reza berusaha menyakinkan Dea.
Dea tersemyum manis. Ada kesejukan mengisi relung hatinya. Dan sebuah ciuman mendarat di keningnya.
***
“Apa?” Dea tersentak mendengar kabar yang baru saja ia dengar. Air matanya meleleh, tubuhnya bergetar. Rasanya rohnya tercabut dari raganya. Hatinya benar-benar sakit.
“Sabar sayang.” Ibu memeluk Dea erat.
“Cobaan apa lagi ini bu. Kenapa Reza ninggalin Dea secepat ini, bahkan Reza belum sempat ngajak Dea keliling Dunia.” Dea memeluk ibunya erat, menumpahkan segala ketakutan dan rasa sakit hatinya.
“Sabar sayang, ini bagian dari rencanaNya. Kamu harus kuat, harus ikhlas.” Air mata mengalir dari kelopak mata ibu, seperti ikut merasakan kesedihan anaknya.
Reza kecelakaan saat penerbangan pertamanya. Pesawat lepas kendali dan jatuh di dasar tebing.


‘Tak usah sedih, kita pasti akan bertemu disurgaNya’