Rabu, 11 Desember 2013

Cerita Cinta Dea

“Bruukk”. “Praaggg”.
“Aduh. Kalau jalan hati-hati donk!! Teriak Dea sambil memunggut Hpnya yang jatuh.
“Maaf, aku lagi buru-buru. Sekali lagi maaf”.
“Enak aja cuma bilang maaf. Hpku rusak gini dan kamu cuma bilang maaf. Ini Negara hukum tau!!” Dea terus meneriaki cowok berkaca mata yang ada didepannya.
“Ini kartu namaku, hubungi aja aku, nanti aku ganti biaya perbaikannya. Maaf banget, aku lagi buru-buru.” Cowok itu menyerahkan selembar kartu nama dan segera berlalu meninggalkan Dea yang masih terlihat geram.
Dea masih diam di tempat, saat bayang cowok itu menghilang dibelokkan. ‘Reza Firmansyah’. Dea mengeja nama yang tertera di kartu nama yang ada ditangannya. Mahasiswa sini ya? Kok aku gak pernah liat. Ya udahlah, yang jelas tuh cowok  udah bikin Hpku rusak. Tapi sebenernya tuh cowok manis juga. Ahh, apa-apaan sih aku ini.
***
“Kamu kemana aja sayang? Aku telpon nomer kamu gak aktif”. Tanya Remi cemas.
“Hpku rusak sayang. Kemaren jatuh”. Jawab Dea singkat sambil mengambil tempat di samping Remi.
“Ohh, ya udah. Nanti malam ada acara? Aku mau ngajak kamu makan malam”. Tanya Remi sambil mendaratkan ciuman manis ke punggung tangan Dea.
“Gak ada sayang”.
“Oke, nanti kamu dandan yang cantik. Pakai gaun yang kemaren aku beli’in. Jam 7 aku jemput kamu ke rumah”. Remi menatap mata Dea lekat dan tangannya masih menggegam erat tangan Dea.
“Emang kita mau makan malam dimana? Kenapa mesti pake gaun sih sayang?” Tanya Dea heran.
“Udah, kamu tenang ajah. Ini malam special buat kita.” Sekali lagi ciuman mendarat dipunggung tangan Dea.
***
Astaga.. Hari ini tanggal 13 Desember. Pantas saja Remi ngajak aku makan malam. Kenapa bisa lupa sih. Tapi hebat Remi masih inget hari jadian kita yang ketiga. Remi memang pacar yang sempurna dimataku.
Sudah tiga tahun sejak perkenalan kita dulu. Remi cowok yang masuk criteria tampan ini adalah kakak kandung temanku, Fitri. Dan dari Fitri juga aku kenal Remi. Remi baru saja menyelesaikan kuliahnya dan sekarang sedang mengurus beberapa Cafe yang dia dirikan bersama beberapa temannya. Selama jalan tiga tahun ini, Remi selalu memberi kesan baik padaku. Remi cowok yang romatis dan sabar, tentunya juga dewasa. Tapi Remi tidak membosankan seperti cowok dewasa kebanyakan. Meski aku yang emosional ini sering mudah marah, namun Remi tetap bersabar dan mampu meredam kemarahanku. Aku sangat menyayanggi Remi, dan sepertinya begitu juga dengan dia.
***

Alunan musik jazz beralun merdu saat aku dan Remi memasuki sebuah Cafe. Sepi, hanya ada beberapa pelayan yang menyambut kedatangan kami dan para pemain musik yang sedang asik memainkan musik jazz disana. Lampu remang-remang berhias cahaya lilin. Benar-benar suasana yang romanstis. Aku memandang Remi penuh takjub dan Remi hanya tersenyum manis sambil terus mengandeng tanganku.
Remi mempersilahkan aku duduk. Dan kami pun duduk berhadapan.
“I love you”. Sebuah kecupan mendarat di punggung tanganku.
“I love you too sayang. Thanks for all”. Jawabku memberikan senyum termanis yang aku punya.
Benar saja, seperti janji Remi. Malam itu menjadi malam terindah bagi kami.
***
Aku Dea, yang minggu lalu Hpnya kamu jatuhin.
*Send.
Tidak butuh waktu lama sampai pesan tersebut mendapat balasan.
Iya Dea, gmn Hpnya udah bisa? Gini aja nanti kita ketemu di Blue Cafe jam 3.
Kamu bisa?
Oke. Jawabku singkat.
Setelah pulang kuliah, aku langsung mampir ke Blue Cafe.
Seorang cowok berkaca mata terlihat dari candela kaca cafe sedang menyeruput kopi dari sebuah cangkir mungil. Dea segera menghampiri cowok tersebut. Cowok tersebut segera beranjak dan menyalami Dea.
“Reza” Ucapnya sambil menyodorkan tangan.
“Dea” Jawab Dea ketus.
Cowok tersebut tersenyum manis dan mempersilahkan Dea duduk. Ada rasa aneh menyelusup sejenak dalam hati Dea, namun Dea buru-buru menepisnya.
Pertemuan sore itu berujung pertemanan. Beberapa kali Reza mengantarkan Dea ke toko buku, atau sekadar minum kopi bersama di sore hari. Belakangan Dea baru tau kalau Reza sedang menjalani training menjadi pilot. Reza punya mimpi ingin mengajak orang yang dia cintai berkeliling dunia, itu sebabnya dia berusaha menjadi pilot.
***
Sialan, lagi-lagi telat. Pekik Dea dalam hati.
Dea berlari menyebrang jalan menuju kampusnya. Dan tiba-tiba…
Tiiiittttt…. Bruuukkkkkk……
Dea tersungkur dengan kepala penuh luka darah.
***
Gelap.
Dimana ini, aku ingin pulang. Aku takut. Tolong aku, tolong aku…
Perlahan Dea membuka mata. Bayang samar-samar ibunya terlihat. Namun semua hanya serupa bayang. Dea berusaha mempertajam pandangannya, namun sia-sia. Hanya bayang yang mampu tertangkap matanya.
“Dea sayang, kamu gak papa nak?” Suara bercampur isak ibu Dea penuh cemas.
“Bu, Dea gak bisa liat apa-apa bu. Semua gelap. Ibu Dea takut bu, Dea takut. Ini kenapa bu. Kenapa mata Dea bu.” Dea menanggis histeris meraba-raba mencari ibunya.
“Tenang sayang tenang. Ada ibu disini.” Ibu Dea berusaha menenangkan.
Arrrggghhhhhhhhhhhhh.
“Dea kenapa bu Dea kenapa?” Dea semakin berteriak histeris, air matanya tak henti berjatuhan.
***
Sejak keluar dari rumah sakit beberapa hari lalu, Dea menjadi semakin pendiam. Dea juga tidak mau menemui siapapun kecuali ibunya. Setiap harinya Dea hanya mangurung diri dikamar. Terus menanggisi takdir yang ia terima.
“Maaf Dea, kita udah gak bisa lagi. Maaf.”
Ucapan terakhir yang dia dengar dari Remi. Sejak tau bahwa Dea buta, Remi seperti berusaha menghindar dari Dea. Dea pun tidak bisa berbuat apa-apa, merelakan Remi pergi adalah jalan satu-satunya. Meski sungguh hati Dea hancur berkeping-keping. Setelah ia kehilangan penglihatannya sekarang ia juga kehilangan cinta dari orang yang ia cintai.
***
“Dea sayang, ada teman kamu datang.” Ucap ibu Dea, menghampiri Dea yang sedang duduk menghadap jendela kamar.
“Dea ingin sendiri bu.” Jawab Dea.
“Kamu gak boleh terus seperti ini sayang. Kamu harus mulai berusaha hidup normal. Namanya Reza, katanya dia sudah berkali-kali menghubungi kamu tapi gak ada jawaban. Lebih baik kamu temui dia.” Bujuk ibu Dea.
Ibunya benar, mau sampai kapan Dea begini. Dea pun mengangguk menyetujui saran ibunya.
“Hai Dea, apa kabar?” Seorang cowok memasuki kamar Dea.
“Seperti yang kamu lihat. Tidak cukup baik.” Jawab Dea datar.
“Aku bawa sesuatu buat kamu.” Cowok tersebut menaruh sebuah kotak diatas tangan Dea.
“Apa ini?” Tanya Dea.
Cowok tersebut pun membuka kotak, mengambil isinya dan mengalungkan sebuah syal berwarna merah marun ke leher Dea.
“Syal?” Dea meraba syal yang ada di lehernya.
“Iya syal berwarna merah, agar kamu terus merasa hangat dan berani menjalani hari-hari kamu kedepanya. Kamu gak sendiri Dea, gak akan pernah.” Cowok itu membelai rambut Dea dan mencium keningnya.
Hari-hari berikutnya, hanya Reza yang setia menemani Dea di sela-sela kesibukannya. Reza yang mampu membuat Dea kembali tegar dan menjalankan kembali kehidupan seperti dulu. Reza yang mengajarkan Dea untuk mengiklaskan segala sesuatunya, mempercayai bahwa Tuhan tau apa yang terbaik untuk hambaNya.
***
Hari ini Reza menemani Dea jalan-jalan di taman.
“Sore yang indah ya? Coba kamu rasakan hembusan angin, suara burung, dan tawa orang-orang disekitar kamu.” Reza memejamkan mata dan menarik nafas dalam-dalam.
Dea mengikuti saran Reza. “Iya. Sore yang indah, meski aku gak mampu melihat keindahannya, tapi setidaknya aku mampu merasakannya.” Jawab Dea dengan seulas senyum menghias bibirnya.
“Dea, ada yang ingin aku sampaikan.” Ucap Reza lembut dengan tangan mengenggam kedua tangan Dea.
“Apa?”
“Aku sayang kamu. Aku ingin kamu yang menemaniku berkeliling dunia. Kita akan merasakan keindahan dunia bersama.” Reza tampak serius.
Namun tak ada jawaban yang keluar dari bibir Dea, hanya air mata yang tiba-tiba merembes dari bola matanya.
“Kenapa kamu menanggis Dea? Kamu tidak suka aku berkata demikian?” Reza mengusap air mata yang meleleh di pipi Dea.
“Kamu tau aku gak sempurna. Kamu pantas dapat yang jauh lebih baik dari aku.” Jawab Dea menahan tanggis.
“Cinta itu sederhana Dea, kita cuma perlu merasakan dan mengikuti kata hati kita. Hati tau kemana ia harus berlabuh. Cinta gak nuntut kesempurnaan. Cinta akan mengenapi segala yang ganjil.” Reza berusaha menyakinkan Dea.
Dea tersemyum manis. Ada kesejukan mengisi relung hatinya. Dan sebuah ciuman mendarat di keningnya.
***
“Apa?” Dea tersentak mendengar kabar yang baru saja ia dengar. Air matanya meleleh, tubuhnya bergetar. Rasanya rohnya tercabut dari raganya. Hatinya benar-benar sakit.
“Sabar sayang.” Ibu memeluk Dea erat.
“Cobaan apa lagi ini bu. Kenapa Reza ninggalin Dea secepat ini, bahkan Reza belum sempat ngajak Dea keliling Dunia.” Dea memeluk ibunya erat, menumpahkan segala ketakutan dan rasa sakit hatinya.
“Sabar sayang, ini bagian dari rencanaNya. Kamu harus kuat, harus ikhlas.” Air mata mengalir dari kelopak mata ibu, seperti ikut merasakan kesedihan anaknya.
Reza kecelakaan saat penerbangan pertamanya. Pesawat lepas kendali dan jatuh di dasar tebing.


‘Tak usah sedih, kita pasti akan bertemu disurgaNya’

Tidak ada komentar:

Posting Komentar