“Bruukk”.
“Praaggg”.
“Aduh.
Kalau jalan hati-hati donk!! Teriak Dea sambil memunggut Hpnya yang jatuh.
“Maaf,
aku lagi buru-buru. Sekali lagi maaf”.
“Enak
aja cuma bilang maaf. Hpku rusak gini dan kamu cuma bilang maaf. Ini Negara
hukum tau!!” Dea terus meneriaki cowok berkaca mata yang ada didepannya.
“Ini
kartu namaku, hubungi aja aku, nanti aku ganti biaya perbaikannya. Maaf banget,
aku lagi buru-buru.” Cowok itu menyerahkan selembar kartu nama dan segera
berlalu meninggalkan Dea yang masih terlihat geram.
Dea
masih diam di tempat, saat bayang cowok itu menghilang dibelokkan. ‘Reza
Firmansyah’. Dea mengeja nama yang tertera di kartu nama yang ada ditangannya.
Mahasiswa sini ya? Kok aku gak pernah liat. Ya udahlah, yang jelas tuh cowok udah bikin Hpku rusak. Tapi sebenernya tuh
cowok manis juga. Ahh, apa-apaan sih aku ini.
***
“Kamu
kemana aja sayang? Aku telpon nomer kamu gak aktif”. Tanya Remi cemas.
“Hpku
rusak sayang. Kemaren jatuh”. Jawab Dea singkat sambil mengambil tempat di
samping Remi.
“Ohh,
ya udah. Nanti malam ada acara? Aku mau ngajak kamu makan malam”. Tanya Remi
sambil mendaratkan ciuman manis ke punggung tangan Dea.
“Gak
ada sayang”.
“Oke,
nanti kamu dandan yang cantik. Pakai gaun yang kemaren aku beli’in. Jam 7 aku
jemput kamu ke rumah”. Remi menatap mata Dea lekat dan tangannya masih
menggegam erat tangan Dea.
“Emang
kita mau makan malam dimana? Kenapa mesti pake gaun sih sayang?” Tanya Dea
heran.
“Udah,
kamu tenang ajah. Ini malam special buat kita.” Sekali lagi ciuman mendarat
dipunggung tangan Dea.
***
Astaga..
Hari ini tanggal 13 Desember. Pantas saja Remi ngajak aku makan malam. Kenapa
bisa lupa sih. Tapi hebat Remi masih inget hari jadian kita yang ketiga. Remi
memang pacar yang sempurna dimataku.
Sudah
tiga tahun sejak perkenalan kita dulu. Remi cowok yang masuk criteria tampan
ini adalah kakak kandung temanku, Fitri. Dan dari Fitri juga aku kenal Remi. Remi
baru saja menyelesaikan kuliahnya dan sekarang sedang mengurus beberapa Cafe
yang dia dirikan bersama beberapa temannya. Selama jalan tiga tahun ini, Remi
selalu memberi kesan baik padaku. Remi cowok yang romatis dan sabar, tentunya
juga dewasa. Tapi Remi tidak membosankan seperti cowok dewasa kebanyakan. Meski
aku yang emosional ini sering mudah marah, namun Remi tetap bersabar dan mampu
meredam kemarahanku. Aku sangat menyayanggi Remi, dan sepertinya begitu juga
dengan dia.
***
Alunan
musik jazz beralun merdu saat aku dan Remi memasuki sebuah Cafe. Sepi, hanya
ada beberapa pelayan yang menyambut kedatangan kami dan para pemain musik yang
sedang asik memainkan musik jazz disana. Lampu remang-remang berhias cahaya
lilin. Benar-benar suasana yang romanstis. Aku memandang Remi penuh takjub dan
Remi hanya tersenyum manis sambil terus mengandeng tanganku.
Remi
mempersilahkan aku duduk. Dan kami pun duduk berhadapan.
“I
love you”. Sebuah kecupan mendarat di punggung tanganku.
“I
love you too sayang. Thanks for all”. Jawabku memberikan senyum termanis yang
aku punya.
Benar
saja, seperti janji Remi. Malam itu menjadi malam terindah bagi kami.
***
Aku
Dea, yang minggu lalu Hpnya kamu jatuhin.
*Send.
Tidak
butuh waktu lama sampai pesan tersebut mendapat balasan.
Iya
Dea, gmn Hpnya udah bisa? Gini aja nanti kita ketemu di Blue Cafe jam 3.
Kamu
bisa?
Oke.
Jawabku singkat.
Setelah
pulang kuliah, aku langsung mampir ke Blue Cafe.
Seorang
cowok berkaca mata terlihat dari candela kaca cafe sedang menyeruput kopi dari
sebuah cangkir mungil. Dea segera menghampiri cowok tersebut. Cowok tersebut
segera beranjak dan menyalami Dea.
“Reza”
Ucapnya sambil menyodorkan tangan.
“Dea”
Jawab Dea ketus.
Cowok
tersebut tersenyum manis dan mempersilahkan Dea duduk. Ada rasa aneh menyelusup
sejenak dalam hati Dea, namun Dea buru-buru menepisnya.
Pertemuan
sore itu berujung pertemanan. Beberapa kali Reza mengantarkan Dea ke toko buku,
atau sekadar minum kopi bersama di sore hari. Belakangan Dea baru tau kalau
Reza sedang menjalani training menjadi pilot. Reza punya mimpi ingin mengajak
orang yang dia cintai berkeliling dunia, itu sebabnya dia berusaha menjadi
pilot.
***
Sialan,
lagi-lagi telat. Pekik Dea dalam hati.
Dea
berlari menyebrang jalan menuju kampusnya. Dan tiba-tiba…
Tiiiittttt….
Bruuukkkkkk……
Dea
tersungkur dengan kepala penuh luka darah.
***
Gelap.
Dimana
ini, aku ingin pulang. Aku takut. Tolong aku, tolong aku…
Perlahan
Dea membuka mata. Bayang samar-samar ibunya terlihat. Namun semua hanya serupa
bayang. Dea berusaha mempertajam pandangannya, namun sia-sia. Hanya bayang yang
mampu tertangkap matanya.
“Dea
sayang, kamu gak papa nak?” Suara bercampur isak ibu Dea penuh cemas.
“Bu,
Dea gak bisa liat apa-apa bu. Semua gelap. Ibu Dea takut bu, Dea takut. Ini
kenapa bu. Kenapa mata Dea bu.” Dea menanggis histeris meraba-raba mencari
ibunya.
“Tenang
sayang tenang. Ada ibu disini.” Ibu Dea berusaha menenangkan.
Arrrggghhhhhhhhhhhhh.
“Dea
kenapa bu Dea kenapa?” Dea semakin berteriak histeris, air matanya tak henti
berjatuhan.
***
Sejak
keluar dari rumah sakit beberapa hari lalu, Dea menjadi semakin pendiam. Dea
juga tidak mau menemui siapapun kecuali ibunya. Setiap harinya Dea hanya
mangurung diri dikamar. Terus menanggisi takdir yang ia terima.
“Maaf
Dea, kita udah gak bisa lagi. Maaf.”
Ucapan
terakhir yang dia dengar dari Remi. Sejak tau bahwa Dea buta, Remi seperti
berusaha menghindar dari Dea. Dea pun tidak bisa berbuat apa-apa, merelakan
Remi pergi adalah jalan satu-satunya. Meski sungguh hati Dea hancur
berkeping-keping. Setelah ia kehilangan penglihatannya sekarang ia juga
kehilangan cinta dari orang yang ia cintai.
***
“Dea
sayang, ada teman kamu datang.” Ucap ibu Dea, menghampiri Dea yang sedang duduk
menghadap jendela kamar.
“Dea
ingin sendiri bu.” Jawab Dea.
“Kamu
gak boleh terus seperti ini sayang. Kamu harus mulai berusaha hidup normal.
Namanya Reza, katanya dia sudah berkali-kali menghubungi kamu tapi gak ada
jawaban. Lebih baik kamu temui dia.” Bujuk ibu Dea.
Ibunya
benar, mau sampai kapan Dea begini. Dea pun mengangguk menyetujui saran ibunya.
“Hai
Dea, apa kabar?” Seorang cowok memasuki kamar Dea.
“Seperti
yang kamu lihat. Tidak cukup baik.” Jawab Dea datar.
“Aku
bawa sesuatu buat kamu.” Cowok tersebut menaruh sebuah kotak diatas tangan Dea.
“Apa
ini?” Tanya Dea.
Cowok
tersebut pun membuka kotak, mengambil isinya dan mengalungkan sebuah syal
berwarna merah marun ke leher Dea.
“Syal?”
Dea meraba syal yang ada di lehernya.
“Iya
syal berwarna merah, agar kamu terus merasa hangat dan berani menjalani
hari-hari kamu kedepanya. Kamu gak sendiri Dea, gak akan pernah.” Cowok itu
membelai rambut Dea dan mencium keningnya.
Hari-hari
berikutnya, hanya Reza yang setia menemani Dea di sela-sela kesibukannya. Reza
yang mampu membuat Dea kembali tegar dan menjalankan kembali kehidupan seperti
dulu. Reza yang mengajarkan Dea untuk mengiklaskan segala sesuatunya,
mempercayai bahwa Tuhan tau apa yang terbaik untuk hambaNya.
***
Hari
ini Reza menemani Dea jalan-jalan di taman.
“Sore
yang indah ya? Coba kamu rasakan hembusan angin, suara burung, dan tawa
orang-orang disekitar kamu.” Reza memejamkan mata dan menarik nafas
dalam-dalam.
Dea
mengikuti saran Reza. “Iya. Sore yang indah, meski aku gak mampu melihat
keindahannya, tapi setidaknya aku mampu merasakannya.” Jawab Dea dengan seulas
senyum menghias bibirnya.
“Dea,
ada yang ingin aku sampaikan.” Ucap Reza lembut dengan tangan mengenggam kedua tangan
Dea.
“Apa?”
“Aku
sayang kamu. Aku ingin kamu yang menemaniku berkeliling dunia. Kita akan
merasakan keindahan dunia bersama.” Reza tampak serius.
Namun
tak ada jawaban yang keluar dari bibir Dea, hanya air mata yang tiba-tiba
merembes dari bola matanya.
“Kenapa
kamu menanggis Dea? Kamu tidak suka aku berkata demikian?” Reza mengusap air
mata yang meleleh di pipi Dea.
“Kamu
tau aku gak sempurna. Kamu pantas dapat yang jauh lebih baik dari aku.” Jawab
Dea menahan tanggis.
“Cinta
itu sederhana Dea, kita cuma perlu merasakan dan mengikuti kata hati kita. Hati
tau kemana ia harus berlabuh. Cinta gak nuntut kesempurnaan. Cinta akan
mengenapi segala yang ganjil.” Reza berusaha menyakinkan Dea.
Dea
tersemyum manis. Ada kesejukan mengisi relung hatinya. Dan sebuah ciuman
mendarat di keningnya.
***
“Apa?”
Dea tersentak mendengar kabar yang baru saja ia dengar. Air matanya meleleh,
tubuhnya bergetar. Rasanya rohnya tercabut dari raganya. Hatinya benar-benar
sakit.
“Sabar
sayang.” Ibu memeluk Dea erat.
“Cobaan
apa lagi ini bu. Kenapa Reza ninggalin Dea secepat ini, bahkan Reza belum
sempat ngajak Dea keliling Dunia.” Dea memeluk ibunya erat, menumpahkan segala
ketakutan dan rasa sakit hatinya.
“Sabar
sayang, ini bagian dari rencanaNya. Kamu harus kuat, harus ikhlas.” Air mata
mengalir dari kelopak mata ibu, seperti ikut merasakan kesedihan anaknya.
‘Tak
usah sedih, kita pasti akan bertemu disurgaNya’
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar