Pagi ini seperti biasa,
mentari terbit sesuai jadwalnya. Suara kokok ayam jago jantan lantang memekik
ditelinga. Menyeretku kembali dari dunia indah ciptaanku yang semalaman aku
rangkai. Perlahan aku buka mata sipit ini, samar-samar telihat boneka teddy
bear biru yang setia tersenyum disampingku, menjaga aku tiap malamnya. Meski
berat melepas pelukan dari guling kesayangan, namun aku paksakan untuk bangun
dari peraduan. Aku bangun, sedikit melakukan olahraga kecil sebagai perengangan,
lalu merapikan tempat tidur kembali seperti semula. Aku buka candela kamarku
yang langsung menghadirkan tontonan segar taman depan rumah, seketika suasana
sejuk menyeruap masuk kedalam kamar. Mentari pun menembus masuk kedalam kamar,
hangat dan sejuk beradu menciptakan suasana pagi yang luar biasa segar.
Dengan langkah gontai aku
memasuki kamar mandi, berusaha menciptakan kesadaran penuh dalam diri. Seusai
mandi, aku mengganti kostum dengan seragam sekolah putih abu-abu. Merapikan dan
mengecek kembali buku pelajaran, memasukannya dalam tas. Sekali lagi aku
memastikan didepan cermin, bahwa penampilanku sudah rapi. Setelah aku yakin
sudah siap kesekolah, aku keluar dari kamar. Menyapa ibu dan bapak yang sudah
menunggu dimeja makan dengan senyuman termanis. Dengan sigap aku lahap nasi
goreng buatan koki terhebat dirumah ini, ibu. Setelah habis nasi goreng dan
segelas susu yang sudah dihidangkan, maka aku pamit dan bergegas berangkat ke
sekolah.
Hari ini aku mendapat
mata pelajaran bahasa Indonesia. Mengawali pelajaran, pak Joni guru bahasa
indonesiaku mengomentari cara kami mengunakan bahasa Indonesia dalam
berkomunikasi sehari-hari. Beliau bertanya pada kami apakah sebenarnya kami tau
bagaimana bahasa Indonesia yang baik dan benar? Secara serempak kami pun
menjawab “Tahu”. Kemudian beliau kembali menimpali, kenapa kami tidak
mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari?. Kami terdiam. Dan selanjutnya
pembicaraan berlanjut menjadi diskusi panjang yang menyenangkan. Beliau membuka
kesadaran kami mengenai degradasi bahasa Indonesia yang terjadi saat ini. Ini
merupakan imbas dari globalisasi yang semakin terasa dampaknya. Beliau membuka
kesadaran kami mengenai pentingnya bahasa Indonesia yang merupakan identitas
bangsa ini.
Siang ini, ada rasa
berbeda menyeruak dihati. Mengusik pikiran ini. Melangkah menyelusuri jalan yang biasa dilalui, namun
kini tidak dengan perasaan seperti biasanya. Tanpa sadar bola mata ini
mengamati sekeliling, memperhatikan gerombolan pemuda yang sedang asik ngobrol
dengan bahasa khas remaja sekarang. “Hai bro, lo semalem kemana aja?”, ahh, lo
kayak kagak tau aja bro.” dan lo gue lo gue serta bahasa alay lainnya terus
keluar bertubi-tubi dari bibir mereka seperti sudah terbiasa. Mataku mulai menerawang,
pikiran melayang. Dalam lamunan aku teringat semua ucapan pak Joni tadi. Yaa..
bahasa Indonesia memang telah bersetubuh dan terurai dengan bahasa-bahasa ajaib
lainnya. Bahasa yang tidak tau dari mana datangnya dan mulai lazim digunakan.
Dan pertanyaan tiba-tiba hadir, bagaimana nasib bahasa Indonesia kedepannya ya?
Apakah kita rela kehilangan keaslian bahasa Negara kita ini. Seakan memberontak,
aku berteriak lantang.. “Tidak”, dalam hati. Dengan angan yang masih melayang,
aku membuat janji dengan diriku sendiri. Kelak aku ingin menyelamatkan
Bahasaku, bahasa Indonesia. Janjiku juga pada Indonesiaku. J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar