Sabtu, 14 Desember 2013

Janjiku untuk Indonesiaku


Pagi ini seperti biasa, mentari terbit sesuai jadwalnya. Suara kokok ayam jago jantan lantang memekik ditelinga. Menyeretku kembali dari dunia indah ciptaanku yang semalaman aku rangkai. Perlahan aku buka mata sipit ini, samar-samar telihat boneka teddy bear biru yang setia tersenyum disampingku, menjaga aku tiap malamnya. Meski berat melepas pelukan dari guling kesayangan, namun aku paksakan untuk bangun dari peraduan. Aku bangun, sedikit melakukan olahraga kecil sebagai perengangan, lalu merapikan tempat tidur kembali seperti semula. Aku buka candela kamarku yang langsung menghadirkan tontonan segar taman depan rumah, seketika suasana sejuk menyeruap masuk kedalam kamar. Mentari pun menembus masuk kedalam kamar, hangat dan sejuk beradu menciptakan suasana pagi yang luar biasa segar.
Dengan langkah gontai aku memasuki kamar mandi, berusaha menciptakan kesadaran penuh dalam diri. Seusai mandi, aku mengganti kostum dengan seragam sekolah putih abu-abu. Merapikan dan mengecek kembali buku pelajaran, memasukannya dalam tas. Sekali lagi aku memastikan didepan cermin, bahwa penampilanku sudah rapi. Setelah aku yakin sudah siap kesekolah, aku keluar dari kamar. Menyapa ibu dan bapak yang sudah menunggu dimeja makan dengan senyuman termanis. Dengan sigap aku lahap nasi goreng buatan koki terhebat dirumah ini, ibu. Setelah habis nasi goreng dan segelas susu yang sudah dihidangkan, maka aku pamit dan bergegas berangkat ke sekolah.
Hari ini aku mendapat mata pelajaran bahasa Indonesia. Mengawali pelajaran, pak Joni guru bahasa indonesiaku mengomentari cara kami mengunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi sehari-hari. Beliau bertanya pada kami apakah sebenarnya kami tau bagaimana bahasa Indonesia yang baik dan benar? Secara serempak kami pun menjawab “Tahu”. Kemudian beliau kembali menimpali, kenapa kami tidak mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari?. Kami terdiam. Dan selanjutnya pembicaraan berlanjut menjadi diskusi panjang yang menyenangkan. Beliau membuka kesadaran kami mengenai degradasi bahasa Indonesia yang terjadi saat ini. Ini merupakan imbas dari globalisasi yang semakin terasa dampaknya. Beliau membuka kesadaran kami mengenai pentingnya bahasa Indonesia yang merupakan identitas bangsa ini.

Siang ini, ada rasa berbeda menyeruak dihati. Mengusik pikiran ini. Melangkah  menyelusuri jalan yang biasa dilalui, namun kini tidak dengan perasaan seperti biasanya. Tanpa sadar bola mata ini mengamati sekeliling, memperhatikan gerombolan pemuda yang sedang asik ngobrol dengan bahasa khas remaja sekarang. “Hai bro, lo semalem kemana aja?”, ahh, lo kayak kagak tau aja bro.” dan lo gue lo gue serta bahasa alay lainnya terus keluar bertubi-tubi dari bibir mereka seperti sudah terbiasa. Mataku mulai menerawang, pikiran melayang. Dalam lamunan aku teringat semua ucapan pak Joni tadi. Yaa.. bahasa Indonesia memang telah bersetubuh dan terurai dengan bahasa-bahasa ajaib lainnya. Bahasa yang tidak tau dari mana datangnya dan mulai lazim digunakan. Dan pertanyaan tiba-tiba hadir, bagaimana nasib bahasa Indonesia kedepannya ya? Apakah kita rela kehilangan keaslian bahasa Negara kita ini. Seakan memberontak, aku berteriak lantang.. “Tidak”, dalam hati. Dengan angan yang masih melayang, aku membuat janji dengan diriku sendiri. Kelak aku ingin menyelamatkan Bahasaku, bahasa Indonesia. Janjiku juga pada Indonesiaku. J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar