“Hai, namaku Stevannie.
Namamu siapa?” tanya seorang gadis berambut pirang yang sedang duduk
disampingku.
“Aku Laras.” Jawabku
pelan.
“Nice to meet you”
ucapnya sambil menyodorkan tangannya padaku. Aku tersenyum padanya dan membalas
jabat tangannya.
Tangan itu terasa
begitu halus, sepertinya dia bukan gadis yang terbiasa melarat seperti aku.
Dari paras wajahnyapun sudah tergambar jelas bahwa dia cewek blasteran kaya
yang hidup serba berkecukupan.
“Lagi nunggu mobil
jemputan ya non?” tanyaku
“No” jawabnya singkat.
“Terus kenapa kamu ada
di sini, atau lagi nunggu temen ya?”
“I don’t know. Kenapa
aku ada disini.”
Aku mengernyitkan
keningku mendengar jawabannya. Cewek ini emang beneran gak tau atau sengaja mau
bikin aku binggung ya? Terserahlah, peduli amat.
“Kalau kakak, sedang
apa di sini?” Dia balik bertanya kepadaku.
“Oh, aku sedang jualan
gorengan. Kamu mau?”
Tanpa sungkan stevannie
langsung mengambil sebuah gorengan dan memakannya.
“Harganya 500 perak.”
Timpalku. Tapi dia sama sekali tidak menghiraukan ucapanku itu.
“Hmmm… baiklah yang
satu itu gratis buat kamu, anggap saja sebagai tanda perkenalan kita”
sebenernya sih aku tidak rela memberikan gorengan itu gratis untuknya, meskipun
Cuma 500 perak tapi dia itukan anak orang kaya, masak 500 perak aja gak
dibayar.
Kuperhatikan
lamat-lamat gadis itu. Kira-kira umurnya 14 tahun, seperantaran denganku. Dia cantik,
manis, kulitnya putih, rambut pirangnya yang panjang terurai dengan indah. Baju
yang sedang dipakainyapun sangat bagus, maklum saja, dia memang anak orang
kaya. Andai saja aku terlahir seperti dia, pasti aku akan merasa sangat
bahagia.
“Kenapa kakak tidak
sekolah seperti mereka?” tanyanya sambil menunjuk segerombolan anak SMP yang
baru pulang sekolah.
“Aku sekolah, aku sudah
pulang dari tadi kok. Pulang sekolah aku langsung jualan gorengan di pinggiran
taman ini.
“Kenapa kakak kerja?
Apa ayah kakak tidak memberi uang?”
“Ayahku sudah gaka ada,
jadi ya aku harus bantu ibuku untuk cari uang buat biaya sekolah aku dan
adik-adikku.”
“Hidup kakak tidak
bahagia ya?”
Aku mengangguk “Kamu
sih beruntung, tinggal minta langsung dikasih, kalau aku harus kerja dulu baru
dapet uang.”
“Kakak juga beruntung
lho, kakak masih bisa sekolah. Aku pengen sekolah, tapi ayahku tidak
mengizinkan.”
“Lho kenapa?” tanyaku
heran
Stevannie terdiam
beberapa saat.
“Ngomong-ngomong ayahmu
kerja apa?”
“Aku gak ngerti, yang
aku tau ayahku selalu pergi kerja setiap hari.”
“Ibumu?”
“Ibu juga kerja.”
“Terus siapa yang
menemani kamu dirumah?”
“Gak ada, aku anak
tunggal, gak ada yang menemani aku. I feel so sad, so lonely.”
“Ternyata kamu gak
seberuntung yang kukira.”
Stevannie tersenyum
padaku.
“Dulu aku kira jadi
anak orang kaya itu menyenangkan, gak perlu merasakan kesedihan karena susahnya
mencari uang. Tapi nyatanya kamu anak orang kaya tapi malah merasa sedih karena
punya ortu yang over-protektif dan kesepian.
“Kak Laras..”
“Iya, ada apa?”
Stevannie memegang erat
tanganku “Maukah kakak menjadi temanku?”
Sekali lagi aku
tersentak mendengar ucapannya.
“Tentu saja, kamu
adalah temanku”
“Karena kakak temanku,
maukan kakak menemani aku pergi?”
“Nanti, kalau
daganganku ini sudah habis. Aku akan menemanimu. “
“Thanks you, kakak
adalah teman pertamaku. Sejak dulu aku belum pernah punya teman.”
“Lho, kenapa? Kamu kan
kaya, cantik, masa gak ada yang mau berteman dengan kamu?”
“Memang kenyataannya
tidak ada satu orangpun yang mau berteman denganku dan ayahkupun selalu
mengurungku dikamar.”
“Kasihan sekali,
padahal kan kamu gadis yang baik. Terus kenapa ayahmu tega berbuat seperti itu
sama kamu?”
Stevannie menggelengkan
kepalanya. Kemudian dia mengambil sebuah gorengan lagi dan memakannya.
“Kamu pasti merasa
sangat kesepian?”
Stevannie mengangguk.
Kulihat matanya berkaca-kaca, aku merasa sangat iba kepadanya. Ternyata aku
masih beruntung, selain punya seorang ibu yang selalu menjagaku, aku juga masih
memiliki dua orang adik yang selalu bersamaku dan menemaniku. Walaupun
kehidupanku serba kekurangan, tapi aku merasa cukup beruntung. Bahkan lebih
beruntung dari Stevvanie.
“Mungkin, akan lebih
baik jika kumati. Tapi, aku tidak mau mati sendirian, aku ingin ada seseorang
yang menemaniku. Paling tidak saat aku mati aku tidak sendiri lagi.” Ucapnya
pelan.
Aku tidak begitu
menanggapi apa yang baru saja dikatakan oleh stevvanie. Mungkin pikirannya
sedang kacau atau tertekan hingga dia bicara seperti itu. “Sudahlah Stevvanie,
sekarang kan aku sudah jadi temanmu, aku janji kamu pasti gak akan pernah
merasa kesepian lagi.”
“Apa kakak gak takut
berteman denganku?”
“Tentu saja tidak,
kenapa harus takut, kamu kan gadis yang baik.”
***
Hari sudah beranjak
semakin sore, daganganku sudah habis terjual. Stevannie masih tetap setia
menemani disampingku.
“Kamu mau menggajakku
kemana?”
“Ke gedung itu!”
jawabnya sambil menunjuk kearah gedung apartemen tua yang sudah tidak ada
penghuninya.
“Kamu bercanda ya?
Itukan gedung kosong, lagian disana itu tidak ada apa-apa dan tidak ada
siapa-siapa. Kita ke tempat yang lain aja ya?”
Stevannie kembali
terdiam. Sepertinya dia kecewa mendengar ucapanku. Aku langsung berfikir
sejenak.
“Hmmm… baiklah aku mau”
Disepanjang perjalanan
stevvanie hanya terdiam dan senyam senyum sendiri. Mungkin dia merasa sangat
senang karena ada yang mau menemaninya jalan-jalan.
“Kenapa kamu mau
mengajakku kesana?” tanyaku untuk kesekian kalinya. Tapi stevannie hanya
membisu. Aku jadi semakin heran melihat tingkah lakunya.
Sesampainya kita tiba
digedung itu, stevannie mengajakku menaiki tangga menuju lantai paling atas
gedung itu. Awalnya aku sempat menolak ajakannya, namun akhirnya aku mau juga.
Satu per satu aku naiki anak-anak tangga gedung berlantai sepuluh itu. Wuiihh,
capek sekali.
Setelah kita sampai
diatas, rasa penasaranku yang sejak tadi mengisi ruang otakku akhirnya
terjawabkan. Didepanku terlihat sebuah pemandangan yang sangat indah.
Pemandangan saat matahari tenggelam. Wow, indah sekali, mungkin ini yang ingin
diperlihatkan Stevannie padaku.
Aku duduk sambil
menikmati pemandangan ini. Kulihat Stevannie menghampiri tepian atap, lalu dia
membentangkan kedua tangannya dan tersenyum bahagia. Aku turut senang melihat
kebahagiaannya.
“Kak Laras, sini!”
Panggil Stevannie.
Aku mendekat padanya,
kemudian dia mencengkeram tanganku erat. Aku sama sekali tak mengerti
maksudnya. Selangkah demi selangkah Stevannie membawaku semakin mendekati
tepian gedung.
“Stevannie, apa yang
akan kamu lakukan?”
“Aku tidak mau lagi
kehilangan teman, aku ingin kakak berteman denganku. Selamanya.” Jawabnya polos
Seketika aku tersadar.
Stevannie ingin bunuh diri. Aku langsung menarik tanganku dari genggamannya
“Stevannie lepaskan tanganku!” Teriakku.
“Kak Laras bilang kakak
mau jadi temanku dan mau menemaniku”
Kuraih sebuah tiang
yang berdiri didekatku, lalu kupeluk erat. Stevannie menarikku semakin keras.
“stevannie… jangan…”
teriak seorang ibu setengah baya dari belakang.
Stevannie terkejut lalu
melepaskan genggaman tangannya dariku. Dia melompat kebawah sendirian. Aku
tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikannya, aku sangat ketakutan. Aku
hanya bisa memeluk tiang itu sekuat tenaga. Ibu itu berusaha meraih tangan Stevannie.
Tapi.. terlambat.
Stevannie telah lenyap dari pandangan kami. Tak tersisa.
Isak tanggis
menggelegar memecah keheningan. Nafasku terenggah-enggah, pikiranku kacau,
semua terjadi dengan begitu cepat. Aku hampir tak percaya dengan apa yang baru
saja aku alami.
Seketika itu datang
seorang laki-laki bule yang berlari menuju ibu itu dan langsung memeluknya.
Sambil mengucapkan kata-kata yang bisa menenangkan hati ibu itu.
Dan beberapa menit
kemudian laki-laki itu menghampiri aku yang terlihat sangat kebinggungan dan
ketakutan.
“I’m sorry for
Stevannie, did she hurt you?”
Aku mengelengkan kepala
lalu dia mengenggam tanganku.
“I don’t what exactly
happened with my daughter, it’s must be something wrong in her mind, I didn’t
recognize her at all. Ohh… I’m not the good father” ucapnya sambil berlinang
air mata.
Stevannie mengalami
gangguan jiwa sejak kecil. Tepatnya saat berumur 5 tahun dia tak sengaja
menjatuhkan seorang sahabatnya dari atap apartemen itu hingga tewas. Berawal
dari sanalah Stevannie jadi sering menyendiri. Tidak ada satu sekolahpun yang
mau menerima Stevannie sebagai murid karena statusnya sebagai seorang pembunuh
sudah terlanjur melekat padanya. Dan beberapa tahun terakhir ini, Stevannie
selalu mengajak orang-orang disekitarnya untuk melompat dari atap apartemen
itu, supaya dia bisa menyusul sahabatnya yang pernah terjatuh dari sana. Oleh
karena itulah orangtuanya mengurung dan tidak mengizinkannya keluar dari kamar
dan bertemu dengan siapa pun.
***
Sebulan kemudian orang
tua Stevannie datang menemuiku disekolah. Mereka ingin menjadikanku sebagai
anak angkat dan mengajakku tinggal bersama.
“We are not good
parents, but we will try… for you” ucap mereka.
Aku merasa sangat
senang sekali, bukan hanya karena kau akan merasakan bagaimana rasanya jadi
anak orang kaya, tapi juga karena mereka bersedia membiayai sokolah kedua
adikku dan yang berarti aku tidak perlu lagi bekerja setelah pulang sekolah.
“Thank you Stevannie, I
feel so lucky to be your friend. And I will always be your friend no matter what.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar