Sabtu, 14 Desember 2013

STEVANNIE



“Hai, namaku Stevannie. Namamu siapa?” tanya seorang gadis berambut pirang yang sedang duduk disampingku.
“Aku Laras.” Jawabku pelan.
“Nice to meet you” ucapnya sambil menyodorkan tangannya padaku. Aku tersenyum padanya dan membalas jabat tangannya.
Tangan itu terasa begitu halus, sepertinya dia bukan gadis yang terbiasa melarat seperti aku. Dari paras wajahnyapun sudah tergambar jelas bahwa dia cewek blasteran kaya yang hidup serba berkecukupan.
“Lagi nunggu mobil jemputan ya non?” tanyaku
“No” jawabnya singkat.
“Terus kenapa kamu ada di sini, atau lagi nunggu temen ya?”
“I don’t know. Kenapa aku ada disini.”
Aku mengernyitkan keningku mendengar jawabannya. Cewek ini emang beneran gak tau atau sengaja mau bikin aku binggung ya? Terserahlah, peduli amat.
“Kalau kakak, sedang apa di sini?” Dia balik bertanya kepadaku.
“Oh, aku sedang jualan gorengan. Kamu mau?”
Tanpa sungkan stevannie langsung mengambil sebuah gorengan dan memakannya.
“Harganya 500 perak.” Timpalku. Tapi dia sama sekali tidak menghiraukan ucapanku itu.
“Hmmm… baiklah yang satu itu gratis buat kamu, anggap saja sebagai tanda perkenalan kita” sebenernya sih aku tidak rela memberikan gorengan itu gratis untuknya, meskipun Cuma 500 perak tapi dia itukan anak orang kaya, masak 500 perak aja gak dibayar.
Kuperhatikan lamat-lamat gadis itu. Kira-kira umurnya 14 tahun, seperantaran denganku. Dia cantik, manis, kulitnya putih, rambut pirangnya yang panjang terurai dengan indah. Baju yang sedang dipakainyapun sangat bagus, maklum saja, dia memang anak orang kaya. Andai saja aku terlahir seperti dia, pasti aku akan merasa sangat bahagia.
“Kenapa kakak tidak sekolah seperti mereka?” tanyanya sambil menunjuk segerombolan anak SMP yang baru pulang sekolah.
“Aku sekolah, aku sudah pulang dari tadi kok. Pulang sekolah aku langsung jualan gorengan di pinggiran taman ini.
“Kenapa kakak kerja? Apa ayah kakak tidak memberi uang?”
“Ayahku sudah gaka ada, jadi ya aku harus bantu ibuku untuk cari uang buat biaya sekolah aku dan adik-adikku.”
“Hidup kakak tidak bahagia ya?”
Aku mengangguk “Kamu sih beruntung, tinggal minta langsung dikasih, kalau aku harus kerja dulu baru dapet uang.”
“Kakak juga beruntung lho, kakak masih bisa sekolah. Aku pengen sekolah, tapi ayahku tidak mengizinkan.”
“Lho kenapa?” tanyaku heran
Stevannie terdiam beberapa saat.
“Ngomong-ngomong ayahmu kerja apa?”
“Aku gak ngerti, yang aku tau ayahku selalu pergi kerja setiap hari.”
“Ibumu?”
“Ibu juga kerja.”
“Terus siapa yang menemani kamu dirumah?”
“Gak ada, aku anak tunggal, gak ada yang menemani aku. I feel so sad, so lonely.”
“Ternyata kamu gak seberuntung yang kukira.”
Stevannie tersenyum padaku.
“Dulu aku kira jadi anak orang kaya itu menyenangkan, gak perlu merasakan kesedihan karena susahnya mencari uang. Tapi nyatanya kamu anak orang kaya tapi malah merasa sedih karena punya ortu yang over-protektif dan kesepian.
“Kak Laras..”
“Iya, ada apa?”
Stevannie memegang erat tanganku “Maukah kakak menjadi temanku?”
Sekali lagi aku tersentak mendengar ucapannya.
“Tentu saja, kamu adalah temanku”
“Karena kakak temanku, maukan kakak menemani aku pergi?”
“Nanti, kalau daganganku ini sudah habis. Aku akan menemanimu. “
“Thanks you, kakak adalah teman pertamaku. Sejak dulu aku belum pernah punya teman.”
“Lho, kenapa? Kamu kan kaya, cantik, masa gak ada yang mau berteman dengan kamu?”
“Memang kenyataannya tidak ada satu orangpun yang mau berteman denganku dan ayahkupun selalu mengurungku dikamar.”
“Kasihan sekali, padahal kan kamu gadis yang baik. Terus kenapa ayahmu tega berbuat seperti itu sama kamu?”
Stevannie menggelengkan kepalanya. Kemudian dia mengambil sebuah gorengan lagi dan memakannya.
“Kamu pasti merasa sangat kesepian?”
Stevannie mengangguk. Kulihat matanya berkaca-kaca, aku merasa sangat iba kepadanya. Ternyata aku masih beruntung, selain punya seorang ibu yang selalu menjagaku, aku juga masih memiliki dua orang adik yang selalu bersamaku dan menemaniku. Walaupun kehidupanku serba kekurangan, tapi aku merasa cukup beruntung. Bahkan lebih beruntung dari Stevvanie.
“Mungkin, akan lebih baik jika kumati. Tapi, aku tidak mau mati sendirian, aku ingin ada seseorang yang menemaniku. Paling tidak saat aku mati aku tidak sendiri lagi.” Ucapnya pelan.
Aku tidak begitu menanggapi apa yang baru saja dikatakan oleh stevvanie. Mungkin pikirannya sedang kacau atau tertekan hingga dia bicara seperti itu. “Sudahlah Stevvanie, sekarang kan aku sudah jadi temanmu, aku janji kamu pasti gak akan pernah merasa kesepian lagi.”
“Apa kakak gak takut berteman denganku?”
“Tentu saja tidak, kenapa harus takut, kamu kan gadis yang baik.”
***
Hari sudah beranjak semakin sore, daganganku sudah habis terjual. Stevannie masih tetap setia menemani disampingku.
“Kamu mau menggajakku kemana?”
“Ke gedung itu!” jawabnya sambil menunjuk kearah gedung apartemen tua yang sudah tidak ada penghuninya.
“Kamu bercanda ya? Itukan gedung kosong, lagian disana itu tidak ada apa-apa dan tidak ada siapa-siapa. Kita ke tempat yang lain aja ya?”
Stevannie kembali terdiam. Sepertinya dia kecewa mendengar ucapanku. Aku langsung berfikir sejenak.
“Hmmm… baiklah aku mau”
Disepanjang perjalanan stevvanie hanya terdiam dan senyam senyum sendiri. Mungkin dia merasa sangat senang karena ada yang mau menemaninya jalan-jalan.
“Kenapa kamu mau mengajakku kesana?” tanyaku untuk kesekian kalinya. Tapi stevannie hanya membisu. Aku jadi semakin heran melihat tingkah lakunya.
Sesampainya kita tiba digedung itu, stevannie mengajakku menaiki tangga menuju lantai paling atas gedung itu. Awalnya aku sempat menolak ajakannya, namun akhirnya aku mau juga. Satu per satu aku naiki anak-anak tangga gedung berlantai sepuluh itu. Wuiihh, capek sekali.
Setelah kita sampai diatas, rasa penasaranku yang sejak tadi mengisi ruang otakku akhirnya terjawabkan. Didepanku terlihat sebuah pemandangan yang sangat indah. Pemandangan saat matahari tenggelam. Wow, indah sekali, mungkin ini yang ingin diperlihatkan Stevannie padaku.
Aku duduk sambil menikmati pemandangan ini. Kulihat Stevannie menghampiri tepian atap, lalu dia membentangkan kedua tangannya dan tersenyum bahagia. Aku turut senang melihat kebahagiaannya.
“Kak Laras, sini!” Panggil Stevannie.
Aku mendekat padanya, kemudian dia mencengkeram tanganku erat. Aku sama sekali tak mengerti maksudnya. Selangkah demi selangkah Stevannie membawaku semakin mendekati tepian gedung.
“Stevannie, apa yang akan kamu lakukan?”
“Aku tidak mau lagi kehilangan teman, aku ingin kakak berteman denganku. Selamanya.” Jawabnya polos
Seketika aku tersadar. Stevannie ingin bunuh diri. Aku langsung menarik tanganku dari genggamannya “Stevannie lepaskan tanganku!” Teriakku.
“Kak Laras bilang kakak mau jadi temanku dan mau menemaniku”
Kuraih sebuah tiang yang berdiri didekatku, lalu kupeluk erat. Stevannie menarikku semakin keras.
“stevannie… jangan…” teriak seorang ibu setengah baya dari belakang.
Stevannie terkejut lalu melepaskan genggaman tangannya dariku. Dia melompat kebawah sendirian. Aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikannya, aku sangat ketakutan. Aku hanya bisa memeluk tiang itu sekuat tenaga. Ibu itu berusaha meraih tangan Stevannie.
Tapi.. terlambat. Stevannie telah lenyap dari pandangan kami. Tak tersisa.
Isak tanggis menggelegar memecah keheningan. Nafasku terenggah-enggah, pikiranku kacau, semua terjadi dengan begitu cepat. Aku hampir tak percaya dengan apa yang baru saja aku alami.
Seketika itu datang seorang laki-laki bule yang berlari menuju ibu itu dan langsung memeluknya. Sambil mengucapkan kata-kata yang bisa menenangkan hati ibu itu.
Dan beberapa menit kemudian laki-laki itu menghampiri aku yang terlihat sangat kebinggungan dan ketakutan.
“I’m sorry for Stevannie, did she hurt you?”
Aku mengelengkan kepala lalu dia mengenggam tanganku.
“I don’t what exactly happened with my daughter, it’s must be something wrong in her mind, I didn’t recognize her at all. Ohh… I’m not the good father” ucapnya sambil berlinang air mata.
Stevannie mengalami gangguan jiwa sejak kecil. Tepatnya saat berumur 5 tahun dia tak sengaja menjatuhkan seorang sahabatnya dari atap apartemen itu hingga tewas. Berawal dari sanalah Stevannie jadi sering menyendiri. Tidak ada satu sekolahpun yang mau menerima Stevannie sebagai murid karena statusnya sebagai seorang pembunuh sudah terlanjur melekat padanya. Dan beberapa tahun terakhir ini, Stevannie selalu mengajak orang-orang disekitarnya untuk melompat dari atap apartemen itu, supaya dia bisa menyusul sahabatnya yang pernah terjatuh dari sana. Oleh karena itulah orangtuanya mengurung dan tidak mengizinkannya keluar dari kamar dan bertemu dengan siapa pun.
***
Sebulan kemudian orang tua Stevannie datang menemuiku disekolah. Mereka ingin menjadikanku sebagai anak angkat dan mengajakku tinggal bersama.
“We are not good parents, but we will try… for you” ucap mereka.
Aku merasa sangat senang sekali, bukan hanya karena kau akan merasakan bagaimana rasanya jadi anak orang kaya, tapi juga karena mereka bersedia membiayai sokolah kedua adikku dan yang berarti aku tidak perlu lagi bekerja setelah pulang sekolah.
“Thank you Stevannie, I feel so lucky to be your friend. And I will always be your friend no matter what.”
                                                                             



Tidak ada komentar:

Posting Komentar