Hujan baru saja
berhenti di luar, menyisakan senja dan langit yang tampak melebar, meluas,
membekas pada dahan-dahan pohon, dan helai-helai daun. Seketika semerbak wanggi
bunga melati memenuhi udara, harum khas beriring kesegaran selepas hujan. Di
sini kita biasa menghabiskan sore bersama, mengeja adegan demi adegan yang kita
perankan. Tertawa lepas dan kemudian saling melempar kata sayang. Walau kita
tahu ini salah, tapi kita tidak pernah menyesali takdir yang ada.
“Coklat hangat untuk
sore yang dingin.” Sembari menyodorkan segelas coklat hangat, kamu mengambil
posisi disebelahku, mengulum senyum manis yang selalu aku rindukan.
Lama
kita saling diam, senja selepas hujan mencipta lorong panjang yang terhubung
dengan kenangan. Pikiran tergelitik untuk mengingat kejadian 3 bulan lalu. Menunggu
hujan reda menjadi moment kita. Saat itu kamu duduk sendiri. Kulit putihmu pucat
kedinginan, bibir tipismu membiru, dan tubuh rampingmu mengigil. Aku mendekat,
menawarkan jaket. Perkenalan kita berlanjut sebuah jalinan terlarang.
Jika
mereka bilang cinta itu buta. Mungkin benar adanya. Mata kita memang telah
buta. Tak mampu melihat yang sewajarnya. Namun tidak dengan hati kita, kita
melihat yang orang lain tak mampu lihat. Kita menemukan ketulusan dan
kenyamanan. Jalinan cinta dua pria memang terdengar salah. Tapi cinta tak
pernah salah..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar