Kamis, 12 Desember 2013

Cinta (Tidak) Buta


Hujan baru saja berhenti di luar, menyisakan senja dan langit yang tampak melebar, meluas, membekas pada dahan-dahan pohon, dan helai-helai daun. Seketika semerbak wanggi bunga melati memenuhi udara, harum khas beriring kesegaran selepas hujan. Di sini kita biasa menghabiskan sore bersama, mengeja adegan demi adegan yang kita perankan. Tertawa lepas dan kemudian saling melempar kata sayang. Walau kita tahu ini salah, tapi kita tidak pernah menyesali takdir yang ada.
“Coklat hangat untuk sore yang dingin.” Sembari menyodorkan segelas coklat hangat, kamu mengambil posisi disebelahku, mengulum senyum manis yang selalu aku rindukan.
            Lama kita saling diam, senja selepas hujan mencipta lorong panjang yang terhubung dengan kenangan. Pikiran tergelitik untuk mengingat kejadian 3 bulan lalu. Menunggu hujan reda menjadi moment kita. Saat itu kamu duduk sendiri. Kulit putihmu pucat kedinginan, bibir tipismu membiru, dan tubuh rampingmu mengigil. Aku mendekat, menawarkan jaket. Perkenalan kita berlanjut sebuah jalinan terlarang.

            Jika mereka bilang cinta itu buta. Mungkin benar adanya. Mata kita memang telah buta. Tak mampu melihat yang sewajarnya. Namun tidak dengan hati kita, kita melihat yang orang lain tak mampu lihat. Kita menemukan ketulusan dan kenyamanan. Jalinan cinta dua pria memang terdengar salah. Tapi cinta tak pernah salah..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar