Selasa, 17 Desember 2013

Indonesia Tak Harus Sama


Barusan saat membuka facebook, saya membaca salah satu status teman. Dari tulisan tersebut lagi-lagi saya tergelitik untuk menyampaikan uneg-uneg saya. Ini mengenai perbedaan. Perbedaan agama dan suku. Saya lahir dan tumbuh di lingkungan yang mayoritas beragama Islam dan bersuku Jawa. Saya tidak pernah kemana-mana, hanya diam di daerah itu saja. Pada saat itu, jujur saja saya beranggapan bahwa agama dan suku saya lah yang paling benar. Saya tidak sadar atau mungkin karena tidak melihat adanya agama dan suku lain di sekitar saya. Namun tidak pernah terfikir oleh saya bahwa kita harus memeranggi agama dan suku lain. Tidak.

Sampai pada akhirnya saya ditakdirkan untuk kuliah di pulau sebrang. Saya mendapat beasiswa kuliah di Bali. Ya, seperti kita ketahui bahwa mayoritas penduduk Bali adalah non-muslim, lebih tepatnya beragama Hindu. Bagaimana saya yang tadinya mayoritas kemudian harus menjadi minoritas? Sulit memang awalnya, bahkan terasa begitu menyakitkan. Saat kamu ada tapi dianggap tidak ada. Saat kamu punya hak tapi tidak bisa banyak bergerak. Itulah kemudian saya. Beraktivitas dengan hijab dan sholat terasa sangat berat. Jam istirahat yang sangat tidak fleksibel, aktivitas yang selalu saja berbenturan dengan jam sholat. Ah, sungguh menyebalkan. Tapi seiring dengan berjalannya waktu saya mulai sadar akan banyak hal. Bahwa lingkungan tidak pernah salah. Bukan keadaan yang harus menyesuaikan dengan saya, tapi saya lah yang harus menyesuaikan diri dengan keadaan. Kini saya mampu beraktivitas dengan lebih baik. Saya juga mampu bergaul dengan teman-teman yang mayoritas non-muslim, bahkan bersahabat. Sedikit banyak mereka telah mampu menghargai perbedaan yang ada, begitu juga dengan saya. Sering kali juga mereka menginggatkan saya untuk beribadah. Menyenangkan. Saya memiliki sahabat dari agama hindu dan kristen.

Dari sanalah saya mulai melihat perbedaan dengan kaca mata yang berbeda. Belakangan saya sangat miris mendengar kabar, mengenai FPI yang mati-matian menentang adanya Miss World di Bali, juga mengenai pertentangan pada ketua pemerintahan yang beragama non-muslim. Menurut saya hal ini malah menjadikan kita seperti sengaja memperjelas perbedaan yang ada di Bumi Nusantara. Biarkan saja Miss Word itu tetap berjalan seperti rencana, bukankah acara itu diselenggarakan di Bali bukan di Jawa. Lagipula acara tersebut tidak menganggu golongan lain. Lalu apa yang mesti dipermasalahkan? Kalau yang dipermasalahkan adalah Bikini-nya, apa tidak berlebihan? Toh jaman sekarang ini tanpa ada acara Miss Word saja kita bisa melihat perempuan memakai Bikini dimana-mana. Lihat saja para artis Indonesia yang berani main film buka-bukaan tersebut. Saya kurang tau agama para artis itu apa. Selanjutnya mengenai pemimpin non-muslim. kalau dipikir memang cukup aneh. Bagaimana kelompok muslim dipimpin oleh seorang non-muslim. Tapi, mari kita pikirkan secara dewasa. Kalau orang tersebut ternyata lebih baik dari orang muslim, kenapa tidak? Kenapa kita harus lebih memilih untuk didzalimi seorang pemimpin muslim daripada disejahterahkan oleh pemimpin yang non-muslim.

Saya tidak akan mengatakan semua agama sama. Tidak. Saya juga tidak akan mengatakan kalau Tuhan itu Satu, sebutannya saja yang berbeda-beda. Tidak. Karena walau bagaimanapun, setiap ada hitam tentu saja ada yang putih. Setiap ada yang benar tentu saja ada yang salah. Jadi pastilah ada agama yang lebih benar dari agama lain, pastilah ada agama yang lebih baik dari agama lain. Tapi tugas kita bukan memeranggi yang salah. Bukan juga berkoar menyatakan agamanyalah yang terbaik. Bukan. Tugas kita adalah membenarkan dan memperbaiki diri sendiri. Terus menyakini apa yang kita yakini. Itu saja, cukup. Jangan mengusik golongan lain. Mari berjalan beriringan. Mari saling menghargai dan menghormati. Dengan begitu dunia akan damai.

Apa kita lupa pada pelajaran Pancasila sewaktu masih di bangku sekolah. Apa kita lupa dengan Bhineka Tunggal Eka. Sejak jaman tidak enak dulu, negara ini memang sudah berbeda. Tidak perlulah menyamakan. Bukankah sesuatu yang sama cenderung tidak enak. Pelangi saja perlu berbeda agar terlihat indah. Mari menghargai perbedaan yang ada..


Salam Damai, Indonesia-ku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar