Hujan
sore itu, mempertemukan kita
Deras
rintiknya memaksa kita duduk berdamping dibawah atap halte
Aku
menatapmu sekilas saja, namun tatap matamu membekukan tatapanku
Senyum
menghias paras rupawanmu, membuatku jatuh seketika tepat dihatimu
Lama
hujan mengusikmu untuk menanyakan namaku, sekadar membunuh waktu
Aku
tersipu, dengan pipi semerah jambu, kujawab tanyamu
Seperti
semyun kita, hati pun saling menyambut untuk lebih jauh
Waktu
berlalu, jabat tangan terulur sebagai salam perkenalan sekaligus lambaian
perpisahan
Setelah
pertemuan di halte sore itu, kita kembali ke tempat masing-masing. Kamu kebarat
dan aku ketimur. Terpisah begitu jauh dan tak tau apa masih bisa bertemu. Namun
kisah kita terus berlanjut by phone,
selang kurang dari seminggu setelah hujan sore itu, kamu memintaku menemani
hari-harimu kedepannya, bahkan mungkin untuk selamanya. Dengan beribu ragu aku
menerimanya. Kamu tahu apa yang membuatku ragu? Bukan hanya terlalu cepat
permintaan itu datang, atau karena aku tahu kamu tidak tulus, tapi juga Karena
kita terlampau jauh berbeda. Seperti kisah yang sudah-sudah, perbedaan selalu
memunculkan noda. Sekecil apa-pun noda itu, pasti ada. Noda yang pada akhirnya
hanya merusak segala keindahan.
Aku
tak tahu, apa ini pilihan yang tepat? Menerimamu.
Saat lukaku sendiri belum sembuh benar, saat krisis kepercayaanku terhadap
cinta berada diujung tanduk. Apalagi dengan kondisi kita yang seperti ini.
Sama-sama main-main. Aku tahu, keputusanku ini cuma menanam bibit, yang pasti
kelak akan menumbuhkan rasa sakit lagi. Main-main? Ahh, terdengar konyol untuk
sebuah komitmen. Kita bukan anak kemaren sore lagi, kita sudah terlalu tua
untuk mempermainkan sebuah komitmen. Mungkin ego telah menguasai rasa kita,
biarkan saja ia
Semakin
hari semakin aku sadar kalau kita sesungguhnya tak bisa, namun tak sampai hati
mengucap pisah sedini ini. Tak ingin memutus harapmu atau merampas senyummu.
Atau aku terlalu takut kembali pada status terkutuk itu lagi “Jomblo”. Yaa, aku
mempertahankan gelar “Berpacaran” dalam kepalsuan. Kebohongan yang terus
melahirkan kebohongan lain. Aku berbohong saat aku bilang menyayangimu, aku
berbohong saat aku bilang ingin selamanya denganmu. Nyatanya aku membohongimu
juga diriku sendiri. Kebohongan yang belakangan mulai Menyiksaku. Tersiksa karna harus selalu membuka pagimu dengan pesan
singkatku, tersiksa saat harus terus memberimu kabar mengenai setiap
aktivitasku, tersisksa karna harus selalu meninabobokan kamu lewat pesan
singkatku, walau aku tak pernah tahu, siapa yang yang hadir disetiap mimpi
malammu. Semakin tersiksa… aku mulai malas menyapamu, malas mengabarimu, malas
mendengar cerita-ceritamu tentang mereka yang kamu temui.
Kamu
merajut manja, ngambek atau entah apapun itu namanya. Kamu mulai mengirim
pesan-pesan merendahkan diri. Memojokkanku.. Menyiksaku dengan caramu yang
lain. Dan sungguh aku benci keadaan seperti itu.
Kamu
dengan paras “Gantengmu”, dengan tubuh yang tidak terlalu tinggi juga tidak
pendek, dengan kulit bersih yang jauh lebih bersih dari aku. Kamu yang mampu
membuat setiap mata hawa yang menatapmu terpesona. Ternyata tak sesempurna yang
aku bayangkan. Kamu yang awalnya mampu membuatku klepek-klepek, ternyata tak sejantan adam kebanyakan. Tak sedewasa
yang aku harapkan. Bukan pendamping yang aku butuhkan. Memang wajar, parasmu
yang lebih mendekati cantik itu tidak cocok kalau tersengat terik matahari
terlalu lama, tangan lembutmu itu tidak sepatutnya mengangkat beban berat dan
mencetak otot-ototnya.
Sekarang
aku tak tahu, melepasmu begitu sulit. Bukan karna aku mencintaimu, tapi karna
aku tak tega melihat wajah innocentmu bersedih. Bertahan pun meninggalkan perih
tiap detiknya. Aku tidak merasakan rasa nyaman saat berbincang denganmu, aku
merasa kita tidak pernah sama. Aku bicara dengan bahasa yang kamu tak mengerti,
begitu juga dengan kamu, dan duniamu yang tak pernah aku mengerti. Entah sampai
kapan kita bertahan... Dan kelak, saat kamu memilih pergi.
Aku
hanya akan menginggatmu sebagai Hujan.
Yang
datang, dan seketika menghilang…
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar