Jumat, 20 Desember 2013

Jangan Berhenti Menulis!

Menulis tentulah kegiatan yang sangat menyenangkan. Banyak manfaat yang kita dapat dari menulis. Selain sebagai sarana menuangkan ide, seperti halnya dengan foto, menulis juga dapat merekam moment. Menulis mampu merekam moment yang ada saat ini dan membantu kita untuk merefleksi diri di kemudian hari. Banyak dari kita yang memilih menulis sebagai hoby, namun tidak sedikit juga yang menjadikan menulis sebagai profesi.
Bagi mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia menulis tidak bisa dijadikan pilihan tapi suatu keharusan. Pada jurusan ini terdapat mata kuliah menulis yang menjadikan menulis sebagai tugas utamanya. Terdapat dua mata kuliah menulis, yaitu menulis satu dan menulis dua. Menulis satu menuntun kita untuk mengenal dasar-dasar menulis dan macam-macam paragraf. Di mata kuliah menulis satu ini kita belajar menulis paragraf yang baik dan enak dibaca, sesuai dengan jenisnya. Pada mata kuliah selanjutnya, yaitu menulis dua, kita mulai belajar menulis satu tingkat di atas paragraf yakni menulis wacana.
Menulis merupakan kegiatan yang sangat dekat dengan kita. Tanpa kita sadari sedikit banyak, kita tidak dapat terhindar dari aktivitas ini. Setiap hari kita menulis walau dengan konteks yang berbeda-beda. Karena itu menulis sepertinya suatu kegiatan yang mudah. Namun apa benar demikian?
Menulis memanglah suatu kegiatan yang mudah. Kita tinggal menuangkan apa yang ada dalam pikiran kita ke dalam bentuk tulisan. Namun berbeda halnya saat menulis untuk dinilai. Menulis tetap menjadi suatu kegiatan yang menyenangkan namun tidak lagi mudah (Bagi saya). Ada banyak hal yang harus kita perhatikan dalam tulisan kita, mulai dari ide pokok tulisan, keteraturan, pemilihan kata, pengunaan bahasa, sampai dengan ejaan harus diperhatikan dengan baik.
Bisa karena terbiasa. Agar tulisan kita baik dan enak dibaca, yang perlu kita lakukan adalah membiasakan diri menulis. Semakin sering kita menulis, maka semakin matang tulisan kita. Ejaan juga memengaruhi tulisan kita agar enak dibaca, untuk itu sesekali perlulah kita membuka EYD agar tulisan kita lebih matang lagi. Buat tulisan kita mengalir seperti aliran sungai yang tenang, jangan seperti ombak pantai yang terus meledak-ledak.
Berkali-kali saya menulis, berkali-kali pula saya mendapat koreksi dari dosen saya. Suatu ketika saya merasa lelah menulis, beranggapan bahwa saya tidak bisa menulis. Namun buru-buru saya tepis anggapan saya. Tidak ada koreksi yang tidak bertujuan untuk kebaikan. Mungkin bukan tidak bisa, namun harus lebih terbiasa.
Banyak juga dari kita yang merasa tulisannya tidak bagus. Itu salah, karena tidak ada tulisan yang tidak bagus, yang ada hanya tulisan yang belum jadi. Sehingga perlu penyempurnaan lagi. Untuk itu teruslah menulis, jangan pernah berhenti menulis!
Mari terus menulis!


*Tulisan ini dibuat untuk menyemangati diri sendiri. Hidup mata kuliah Menulis! :D

Kamis, 19 Desember 2013

Mari Bicara Kematian

Malam ini, mari kita bicara mengenai kematian. Bukan sesuatu yang menyeramkan dan harus dihindari bukan? Kematian itu sesuatu yang pasti datang, namun tidak dapat dipastikan kapan datangannya. Sebulan ini, saya sedang berduka. Duka kehilangan dua guru terbaik saya. Beberapa minggu yang lalu, saya mendapat kabar lewat sms dan whatApps dari teman-teman saya. Mereka memberitai mengenai kepulangan salah satu guru terbaik kami. Beberapa hari sebelum kabar ini datang, saya juga mendapat kabar kalau beliau sedang dioperasi dan harus dirawat di rumah sakit. Saya sendiri tidak tahu pasti apa penyakitnya. Beliau adalah guru olahraga di yayasan tempat saya menuntut ilmu. Berperawakan besar dengan perut buncit. Rambut beliau selalu dicukur bersih, namun dibiarkannya kumis tumbuh tipis. Beliau murah senyum dan doyan tertawa. Selera humor beliau tinggi. Jarang sekali beliau terlihat serius, meski dalam situasi sekrodit apapun. Tapi masalah selalu mampu diatasi. Beliau selalu mampu menyelesaikan masalah dengan tenang, namun penuh pertimbangan. Beliau adalah satu-satunya guru yang paling dekat dengan santrinya, setidaknya begitu menurut saya. Beliau biasa menghabiskan waktu bersama para santri di sekolahan, jandom, makan bareng seadanya, dan tidur bareng di sekolah. Sebelum tidur beliau biasa bercerita panjang lebar, mendiskusikan banyak hal, dan menanyakan perkembangan tiap santrinya. Begitulah beliau, sangat peduli terhadap santri-santrinya. Setiap perkembangan santrinya pasti beliau tahu. Yang mulai nakal akan beliau tegur dengan sindiran-sindiran dan candaan. Bahkan yang sudah menjadi alumni pun tidak luput dari perhatian beliau. Beliau adalah guru yang luar biasa menurut saya. Sederhana dan  tidak sok ngiyai. Itu pendapat saya mengenai beliau, untuk segala catatan kelam sebelum saya mengenal beliau, saya tidak tahu dan tidak mau tahu. Itu sebabnya, saat mendengar berita kepergiaan beliau, saya gemetar. Tidak percaya dan ketakutan. Saya takut memikirkan nasib sekolah saya. Walau beliau bukan pimpinan, tapi segala yang beliau lakukan lebih dari tugasnya. Saya juga takut memikirkan nasib adik-adik saya di sana, siapa lagi yang akan mengawasi dan menegur mereka? Siapa yang akan memberi masukan tiap kali ada anak yang kebinggungan. Biasanya kita semua rajin minta pendapat beliau. Lalu bagaimana dengan nasib para alumni tanpa beliau. Saya hanya mampu mendoakan, semoga bapak mendapat tempat yang terbaik dan segala yang terbaik bagi keluarga yang ditinggalkan. 
Selanjutnya, rabu siang saat kuliah menulis II. Kembali sebuah kabar duka bertandang. Salah satu dosen dan ketua jurusan terbaik berpulang. Saya mungkin tidak cukup mengenal beliau. Hanya beberapa kali mendapat mata kuliah yang beliau ajarkan. Tapi itu cukup untuk membuat saya yakin bahwa beliau dosen dan ketua jurusan yang baik. Saya juga sudah sering mendengar cerita mengenai kebaikan beliau dari kakak-kakak tingkat. Belakangan saya semakin yakin bahwa beliau adalah ketua jurusan terbaik. Ini saya lihat dari beberapa status facebook mahasiswa dan dosen. Masing-masing mengenang moment bersama beliau, masing-masing mengungkapkan betapa mereka kehilangan sosok beliau. Beliau yang dinilai bertanggungjawab, hangat, ramah, dan sederhana. Bahkan ada salah satu status dosen yang terus membuat saya menangis jika mengingatnya. Dosen tersebut mengungkapkan bahwa alm. mengajak untuk bekerja lebih giat dalam akreditasi jurusan karena mengasihani nasib mahasiswa nantinya saat sudah lulus, agar ijazah mahasiswa lebih dinilai di dunia kerja. Sungguh, ungkapan ini terus membuat saya bergetar dan meneteskan air mata haru. Betapa dalam keadaannya yang sedemikian beliau masih memikirkan nasib kita, anak didiknya. Jarang saya temui pendidik seperti beliau. Zaman telah banyak merubah tujuan. Tuntutan hidup telah mendesak para pendidik, untuk lebih berfokus pada kepentingan pribadi daripada tugas mencetak anak didik berkualitas.
Yaa, setiap yang hidup pasti akan kembali. Hanya masalah waktu, hanya tinggal menunggu giliran. Kadang kita hidup tanpa menyadari keberadaan “kematian”. Kita tertawa, bersenang-senang, jatuh cinta, sibuk kerja, sibuk mengurusi urusan duniawi. Kita gak sadar kalo giliran kita bisa datang kapan saja. Dan saat itu tiba, saat raga kita kembali ke tanah maka tidak ada lagi yang tersisa. Hanya kenangan. Akan seperti apa nantinya kita dikenang, akan seperti apa nama kita disebutkan, apa yang mampu kita tinggalkan? Badan ini dipinjamkan. Setiap tarikan napas, adalah satu tarikan napas lagi mendekati kematian. Kita harus membuat lebih banyak karya, lebih banyak memanfaatkan hidup, lebih banyak mengambil kesempatan. Hidup ini cuman sekali. Akan sangat sayang untuk kita buang begitu aja. Kita gak mau kan, nantinya hanya jadi sebatang nisan usang. Yang awalnya ditanggisi dan banyak dikunjunggi, lalu kemudian semakin jarang, semakin jarang, sampai pada akhirnya dilupakan…

Rabu, 18 Desember 2013

Perihal waktu

Ada resah yang memisah
Ada sesak dibalik rasa

Waktu
Berubahlah cepat-cepat
Aku tak inginkan drama ini terlalu lama menggangu otakku

Waktu bergegaslah
Bawa aku ke ruang yang  tak lagi sama
Aku stuck, tak bergerak
Kediamanku ini membuatku kosong

Gerak peristaltic ini menyisahkan lelah
 yang kian lama kian mendera

Duhai  waktu,
Tak kau rasakah pemberontakkanku ini
Kenapa kau diam saja,
Duhai waktu..
Bunuh waktuku sekarang dan hidupkan kembali saat mentari telah menyapa


Selasa, 17 Desember 2013

Indonesia Tak Harus Sama


Barusan saat membuka facebook, saya membaca salah satu status teman. Dari tulisan tersebut lagi-lagi saya tergelitik untuk menyampaikan uneg-uneg saya. Ini mengenai perbedaan. Perbedaan agama dan suku. Saya lahir dan tumbuh di lingkungan yang mayoritas beragama Islam dan bersuku Jawa. Saya tidak pernah kemana-mana, hanya diam di daerah itu saja. Pada saat itu, jujur saja saya beranggapan bahwa agama dan suku saya lah yang paling benar. Saya tidak sadar atau mungkin karena tidak melihat adanya agama dan suku lain di sekitar saya. Namun tidak pernah terfikir oleh saya bahwa kita harus memeranggi agama dan suku lain. Tidak.

Sampai pada akhirnya saya ditakdirkan untuk kuliah di pulau sebrang. Saya mendapat beasiswa kuliah di Bali. Ya, seperti kita ketahui bahwa mayoritas penduduk Bali adalah non-muslim, lebih tepatnya beragama Hindu. Bagaimana saya yang tadinya mayoritas kemudian harus menjadi minoritas? Sulit memang awalnya, bahkan terasa begitu menyakitkan. Saat kamu ada tapi dianggap tidak ada. Saat kamu punya hak tapi tidak bisa banyak bergerak. Itulah kemudian saya. Beraktivitas dengan hijab dan sholat terasa sangat berat. Jam istirahat yang sangat tidak fleksibel, aktivitas yang selalu saja berbenturan dengan jam sholat. Ah, sungguh menyebalkan. Tapi seiring dengan berjalannya waktu saya mulai sadar akan banyak hal. Bahwa lingkungan tidak pernah salah. Bukan keadaan yang harus menyesuaikan dengan saya, tapi saya lah yang harus menyesuaikan diri dengan keadaan. Kini saya mampu beraktivitas dengan lebih baik. Saya juga mampu bergaul dengan teman-teman yang mayoritas non-muslim, bahkan bersahabat. Sedikit banyak mereka telah mampu menghargai perbedaan yang ada, begitu juga dengan saya. Sering kali juga mereka menginggatkan saya untuk beribadah. Menyenangkan. Saya memiliki sahabat dari agama hindu dan kristen.

Dari sanalah saya mulai melihat perbedaan dengan kaca mata yang berbeda. Belakangan saya sangat miris mendengar kabar, mengenai FPI yang mati-matian menentang adanya Miss World di Bali, juga mengenai pertentangan pada ketua pemerintahan yang beragama non-muslim. Menurut saya hal ini malah menjadikan kita seperti sengaja memperjelas perbedaan yang ada di Bumi Nusantara. Biarkan saja Miss Word itu tetap berjalan seperti rencana, bukankah acara itu diselenggarakan di Bali bukan di Jawa. Lagipula acara tersebut tidak menganggu golongan lain. Lalu apa yang mesti dipermasalahkan? Kalau yang dipermasalahkan adalah Bikini-nya, apa tidak berlebihan? Toh jaman sekarang ini tanpa ada acara Miss Word saja kita bisa melihat perempuan memakai Bikini dimana-mana. Lihat saja para artis Indonesia yang berani main film buka-bukaan tersebut. Saya kurang tau agama para artis itu apa. Selanjutnya mengenai pemimpin non-muslim. kalau dipikir memang cukup aneh. Bagaimana kelompok muslim dipimpin oleh seorang non-muslim. Tapi, mari kita pikirkan secara dewasa. Kalau orang tersebut ternyata lebih baik dari orang muslim, kenapa tidak? Kenapa kita harus lebih memilih untuk didzalimi seorang pemimpin muslim daripada disejahterahkan oleh pemimpin yang non-muslim.

Saya tidak akan mengatakan semua agama sama. Tidak. Saya juga tidak akan mengatakan kalau Tuhan itu Satu, sebutannya saja yang berbeda-beda. Tidak. Karena walau bagaimanapun, setiap ada hitam tentu saja ada yang putih. Setiap ada yang benar tentu saja ada yang salah. Jadi pastilah ada agama yang lebih benar dari agama lain, pastilah ada agama yang lebih baik dari agama lain. Tapi tugas kita bukan memeranggi yang salah. Bukan juga berkoar menyatakan agamanyalah yang terbaik. Bukan. Tugas kita adalah membenarkan dan memperbaiki diri sendiri. Terus menyakini apa yang kita yakini. Itu saja, cukup. Jangan mengusik golongan lain. Mari berjalan beriringan. Mari saling menghargai dan menghormati. Dengan begitu dunia akan damai.

Apa kita lupa pada pelajaran Pancasila sewaktu masih di bangku sekolah. Apa kita lupa dengan Bhineka Tunggal Eka. Sejak jaman tidak enak dulu, negara ini memang sudah berbeda. Tidak perlulah menyamakan. Bukankah sesuatu yang sama cenderung tidak enak. Pelangi saja perlu berbeda agar terlihat indah. Mari menghargai perbedaan yang ada..


Salam Damai, Indonesia-ku

Minggu, 15 Desember 2013

Iwan Fals Pernah Vakum Saat Reformasi


Menjadi public figure memang tidak mudah, seseorang dituntut harus terus berkarya. Dengan aktivitas yang begitu padat dan melelahkan. Beberapa dari public figure tersebut memang menikmati keadaan tersebut, namun tidak sedikit pula yang merasa kewalahan dan stress. Sebagian besar dari kita memang tidak tau kapan waktu yang tepat untuk berhenti dan memulai lagi. Terlalu berambisi untuk mengejar sesuatu  atau hanya untuk mempertahankan eksistensi diri. Dalam hidup perlu ada jeda sejenak, vakum dari segala aktivitas yang kita geluti. Sekadar untuk mereboisasi kembali motivasi yang sudah basi atau sekadar melakukan penyegaran kembali pada tubuh dan fikiran. Ada beberapa alasan mengapa seseorang memilih vakum dari aktivitasnya, seperti tuntutan keluarga, kondisi kesehatan, keadaan lingkungan, atau kesadaran diri. Salah satu public figure yang sempat vakum yaitu Iwan fals. Seorang musisi yang melalui karyanya banyak menyindir penguasa dengan segala kebobrokannya, hingga pernah dicekal rezim Orde baru. Setelahnya Iwan Fals terus berkarya. Ia juga pernah menciptakan musik koraborasi dengan W.S. Rendra, Sawung Jabo dan Setiawan Djodi dalam Katata Taqwa yang sempat memberi inspirasi bagi anak-anak muda dimasa itu untuk mempertanyakan status quo kekuasaan. Dan karena kondisi Negara yang sedang tidak baik, maka dimasa peralihan Reformasi, Iwan Fals vakum dari public. Dan kembali lagi saat keadaan sudah membaik dimasa Reformasi, seperti yang dipaparkan dalam salah satu buku berjudul “100 Tokoh yang Mengubah Indonesia” yang ditulis oleh Floriberta Aning, dkk. “Setelah hiruk-pikuk reformasi di Indonesia, kini iwan sesekali kembali ke dunia panggung untuk menyapa public dan melantunkan lagu-lagu barunya”. 

Sabtu, 14 Desember 2013

STEVANNIE



“Hai, namaku Stevannie. Namamu siapa?” tanya seorang gadis berambut pirang yang sedang duduk disampingku.
“Aku Laras.” Jawabku pelan.
“Nice to meet you” ucapnya sambil menyodorkan tangannya padaku. Aku tersenyum padanya dan membalas jabat tangannya.
Tangan itu terasa begitu halus, sepertinya dia bukan gadis yang terbiasa melarat seperti aku. Dari paras wajahnyapun sudah tergambar jelas bahwa dia cewek blasteran kaya yang hidup serba berkecukupan.
“Lagi nunggu mobil jemputan ya non?” tanyaku
“No” jawabnya singkat.
“Terus kenapa kamu ada di sini, atau lagi nunggu temen ya?”
“I don’t know. Kenapa aku ada disini.”
Aku mengernyitkan keningku mendengar jawabannya. Cewek ini emang beneran gak tau atau sengaja mau bikin aku binggung ya? Terserahlah, peduli amat.
“Kalau kakak, sedang apa di sini?” Dia balik bertanya kepadaku.
“Oh, aku sedang jualan gorengan. Kamu mau?”
Tanpa sungkan stevannie langsung mengambil sebuah gorengan dan memakannya.
“Harganya 500 perak.” Timpalku. Tapi dia sama sekali tidak menghiraukan ucapanku itu.
“Hmmm… baiklah yang satu itu gratis buat kamu, anggap saja sebagai tanda perkenalan kita” sebenernya sih aku tidak rela memberikan gorengan itu gratis untuknya, meskipun Cuma 500 perak tapi dia itukan anak orang kaya, masak 500 perak aja gak dibayar.
Kuperhatikan lamat-lamat gadis itu. Kira-kira umurnya 14 tahun, seperantaran denganku. Dia cantik, manis, kulitnya putih, rambut pirangnya yang panjang terurai dengan indah. Baju yang sedang dipakainyapun sangat bagus, maklum saja, dia memang anak orang kaya. Andai saja aku terlahir seperti dia, pasti aku akan merasa sangat bahagia.
“Kenapa kakak tidak sekolah seperti mereka?” tanyanya sambil menunjuk segerombolan anak SMP yang baru pulang sekolah.
“Aku sekolah, aku sudah pulang dari tadi kok. Pulang sekolah aku langsung jualan gorengan di pinggiran taman ini.
“Kenapa kakak kerja? Apa ayah kakak tidak memberi uang?”
“Ayahku sudah gaka ada, jadi ya aku harus bantu ibuku untuk cari uang buat biaya sekolah aku dan adik-adikku.”
“Hidup kakak tidak bahagia ya?”
Aku mengangguk “Kamu sih beruntung, tinggal minta langsung dikasih, kalau aku harus kerja dulu baru dapet uang.”
“Kakak juga beruntung lho, kakak masih bisa sekolah. Aku pengen sekolah, tapi ayahku tidak mengizinkan.”
“Lho kenapa?” tanyaku heran
Stevannie terdiam beberapa saat.
“Ngomong-ngomong ayahmu kerja apa?”
“Aku gak ngerti, yang aku tau ayahku selalu pergi kerja setiap hari.”
“Ibumu?”
“Ibu juga kerja.”
“Terus siapa yang menemani kamu dirumah?”
“Gak ada, aku anak tunggal, gak ada yang menemani aku. I feel so sad, so lonely.”
“Ternyata kamu gak seberuntung yang kukira.”
Stevannie tersenyum padaku.
“Dulu aku kira jadi anak orang kaya itu menyenangkan, gak perlu merasakan kesedihan karena susahnya mencari uang. Tapi nyatanya kamu anak orang kaya tapi malah merasa sedih karena punya ortu yang over-protektif dan kesepian.
“Kak Laras..”
“Iya, ada apa?”
Stevannie memegang erat tanganku “Maukah kakak menjadi temanku?”
Sekali lagi aku tersentak mendengar ucapannya.
“Tentu saja, kamu adalah temanku”
“Karena kakak temanku, maukan kakak menemani aku pergi?”
“Nanti, kalau daganganku ini sudah habis. Aku akan menemanimu. “
“Thanks you, kakak adalah teman pertamaku. Sejak dulu aku belum pernah punya teman.”
“Lho, kenapa? Kamu kan kaya, cantik, masa gak ada yang mau berteman dengan kamu?”
“Memang kenyataannya tidak ada satu orangpun yang mau berteman denganku dan ayahkupun selalu mengurungku dikamar.”
“Kasihan sekali, padahal kan kamu gadis yang baik. Terus kenapa ayahmu tega berbuat seperti itu sama kamu?”
Stevannie menggelengkan kepalanya. Kemudian dia mengambil sebuah gorengan lagi dan memakannya.
“Kamu pasti merasa sangat kesepian?”
Stevannie mengangguk. Kulihat matanya berkaca-kaca, aku merasa sangat iba kepadanya. Ternyata aku masih beruntung, selain punya seorang ibu yang selalu menjagaku, aku juga masih memiliki dua orang adik yang selalu bersamaku dan menemaniku. Walaupun kehidupanku serba kekurangan, tapi aku merasa cukup beruntung. Bahkan lebih beruntung dari Stevvanie.
“Mungkin, akan lebih baik jika kumati. Tapi, aku tidak mau mati sendirian, aku ingin ada seseorang yang menemaniku. Paling tidak saat aku mati aku tidak sendiri lagi.” Ucapnya pelan.
Aku tidak begitu menanggapi apa yang baru saja dikatakan oleh stevvanie. Mungkin pikirannya sedang kacau atau tertekan hingga dia bicara seperti itu. “Sudahlah Stevvanie, sekarang kan aku sudah jadi temanmu, aku janji kamu pasti gak akan pernah merasa kesepian lagi.”
“Apa kakak gak takut berteman denganku?”
“Tentu saja tidak, kenapa harus takut, kamu kan gadis yang baik.”
***
Hari sudah beranjak semakin sore, daganganku sudah habis terjual. Stevannie masih tetap setia menemani disampingku.
“Kamu mau menggajakku kemana?”
“Ke gedung itu!” jawabnya sambil menunjuk kearah gedung apartemen tua yang sudah tidak ada penghuninya.
“Kamu bercanda ya? Itukan gedung kosong, lagian disana itu tidak ada apa-apa dan tidak ada siapa-siapa. Kita ke tempat yang lain aja ya?”
Stevannie kembali terdiam. Sepertinya dia kecewa mendengar ucapanku. Aku langsung berfikir sejenak.
“Hmmm… baiklah aku mau”
Disepanjang perjalanan stevvanie hanya terdiam dan senyam senyum sendiri. Mungkin dia merasa sangat senang karena ada yang mau menemaninya jalan-jalan.
“Kenapa kamu mau mengajakku kesana?” tanyaku untuk kesekian kalinya. Tapi stevannie hanya membisu. Aku jadi semakin heran melihat tingkah lakunya.
Sesampainya kita tiba digedung itu, stevannie mengajakku menaiki tangga menuju lantai paling atas gedung itu. Awalnya aku sempat menolak ajakannya, namun akhirnya aku mau juga. Satu per satu aku naiki anak-anak tangga gedung berlantai sepuluh itu. Wuiihh, capek sekali.
Setelah kita sampai diatas, rasa penasaranku yang sejak tadi mengisi ruang otakku akhirnya terjawabkan. Didepanku terlihat sebuah pemandangan yang sangat indah. Pemandangan saat matahari tenggelam. Wow, indah sekali, mungkin ini yang ingin diperlihatkan Stevannie padaku.
Aku duduk sambil menikmati pemandangan ini. Kulihat Stevannie menghampiri tepian atap, lalu dia membentangkan kedua tangannya dan tersenyum bahagia. Aku turut senang melihat kebahagiaannya.
“Kak Laras, sini!” Panggil Stevannie.
Aku mendekat padanya, kemudian dia mencengkeram tanganku erat. Aku sama sekali tak mengerti maksudnya. Selangkah demi selangkah Stevannie membawaku semakin mendekati tepian gedung.
“Stevannie, apa yang akan kamu lakukan?”
“Aku tidak mau lagi kehilangan teman, aku ingin kakak berteman denganku. Selamanya.” Jawabnya polos
Seketika aku tersadar. Stevannie ingin bunuh diri. Aku langsung menarik tanganku dari genggamannya “Stevannie lepaskan tanganku!” Teriakku.
“Kak Laras bilang kakak mau jadi temanku dan mau menemaniku”
Kuraih sebuah tiang yang berdiri didekatku, lalu kupeluk erat. Stevannie menarikku semakin keras.
“stevannie… jangan…” teriak seorang ibu setengah baya dari belakang.
Stevannie terkejut lalu melepaskan genggaman tangannya dariku. Dia melompat kebawah sendirian. Aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikannya, aku sangat ketakutan. Aku hanya bisa memeluk tiang itu sekuat tenaga. Ibu itu berusaha meraih tangan Stevannie.
Tapi.. terlambat. Stevannie telah lenyap dari pandangan kami. Tak tersisa.
Isak tanggis menggelegar memecah keheningan. Nafasku terenggah-enggah, pikiranku kacau, semua terjadi dengan begitu cepat. Aku hampir tak percaya dengan apa yang baru saja aku alami.
Seketika itu datang seorang laki-laki bule yang berlari menuju ibu itu dan langsung memeluknya. Sambil mengucapkan kata-kata yang bisa menenangkan hati ibu itu.
Dan beberapa menit kemudian laki-laki itu menghampiri aku yang terlihat sangat kebinggungan dan ketakutan.
“I’m sorry for Stevannie, did she hurt you?”
Aku mengelengkan kepala lalu dia mengenggam tanganku.
“I don’t what exactly happened with my daughter, it’s must be something wrong in her mind, I didn’t recognize her at all. Ohh… I’m not the good father” ucapnya sambil berlinang air mata.
Stevannie mengalami gangguan jiwa sejak kecil. Tepatnya saat berumur 5 tahun dia tak sengaja menjatuhkan seorang sahabatnya dari atap apartemen itu hingga tewas. Berawal dari sanalah Stevannie jadi sering menyendiri. Tidak ada satu sekolahpun yang mau menerima Stevannie sebagai murid karena statusnya sebagai seorang pembunuh sudah terlanjur melekat padanya. Dan beberapa tahun terakhir ini, Stevannie selalu mengajak orang-orang disekitarnya untuk melompat dari atap apartemen itu, supaya dia bisa menyusul sahabatnya yang pernah terjatuh dari sana. Oleh karena itulah orangtuanya mengurung dan tidak mengizinkannya keluar dari kamar dan bertemu dengan siapa pun.
***
Sebulan kemudian orang tua Stevannie datang menemuiku disekolah. Mereka ingin menjadikanku sebagai anak angkat dan mengajakku tinggal bersama.
“We are not good parents, but we will try… for you” ucap mereka.
Aku merasa sangat senang sekali, bukan hanya karena kau akan merasakan bagaimana rasanya jadi anak orang kaya, tapi juga karena mereka bersedia membiayai sokolah kedua adikku dan yang berarti aku tidak perlu lagi bekerja setelah pulang sekolah.
“Thank you Stevannie, I feel so lucky to be your friend. And I will always be your friend no matter what.”
                                                                             



Janjiku untuk Indonesiaku


Pagi ini seperti biasa, mentari terbit sesuai jadwalnya. Suara kokok ayam jago jantan lantang memekik ditelinga. Menyeretku kembali dari dunia indah ciptaanku yang semalaman aku rangkai. Perlahan aku buka mata sipit ini, samar-samar telihat boneka teddy bear biru yang setia tersenyum disampingku, menjaga aku tiap malamnya. Meski berat melepas pelukan dari guling kesayangan, namun aku paksakan untuk bangun dari peraduan. Aku bangun, sedikit melakukan olahraga kecil sebagai perengangan, lalu merapikan tempat tidur kembali seperti semula. Aku buka candela kamarku yang langsung menghadirkan tontonan segar taman depan rumah, seketika suasana sejuk menyeruap masuk kedalam kamar. Mentari pun menembus masuk kedalam kamar, hangat dan sejuk beradu menciptakan suasana pagi yang luar biasa segar.
Dengan langkah gontai aku memasuki kamar mandi, berusaha menciptakan kesadaran penuh dalam diri. Seusai mandi, aku mengganti kostum dengan seragam sekolah putih abu-abu. Merapikan dan mengecek kembali buku pelajaran, memasukannya dalam tas. Sekali lagi aku memastikan didepan cermin, bahwa penampilanku sudah rapi. Setelah aku yakin sudah siap kesekolah, aku keluar dari kamar. Menyapa ibu dan bapak yang sudah menunggu dimeja makan dengan senyuman termanis. Dengan sigap aku lahap nasi goreng buatan koki terhebat dirumah ini, ibu. Setelah habis nasi goreng dan segelas susu yang sudah dihidangkan, maka aku pamit dan bergegas berangkat ke sekolah.
Hari ini aku mendapat mata pelajaran bahasa Indonesia. Mengawali pelajaran, pak Joni guru bahasa indonesiaku mengomentari cara kami mengunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi sehari-hari. Beliau bertanya pada kami apakah sebenarnya kami tau bagaimana bahasa Indonesia yang baik dan benar? Secara serempak kami pun menjawab “Tahu”. Kemudian beliau kembali menimpali, kenapa kami tidak mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari?. Kami terdiam. Dan selanjutnya pembicaraan berlanjut menjadi diskusi panjang yang menyenangkan. Beliau membuka kesadaran kami mengenai degradasi bahasa Indonesia yang terjadi saat ini. Ini merupakan imbas dari globalisasi yang semakin terasa dampaknya. Beliau membuka kesadaran kami mengenai pentingnya bahasa Indonesia yang merupakan identitas bangsa ini.

Siang ini, ada rasa berbeda menyeruak dihati. Mengusik pikiran ini. Melangkah  menyelusuri jalan yang biasa dilalui, namun kini tidak dengan perasaan seperti biasanya. Tanpa sadar bola mata ini mengamati sekeliling, memperhatikan gerombolan pemuda yang sedang asik ngobrol dengan bahasa khas remaja sekarang. “Hai bro, lo semalem kemana aja?”, ahh, lo kayak kagak tau aja bro.” dan lo gue lo gue serta bahasa alay lainnya terus keluar bertubi-tubi dari bibir mereka seperti sudah terbiasa. Mataku mulai menerawang, pikiran melayang. Dalam lamunan aku teringat semua ucapan pak Joni tadi. Yaa.. bahasa Indonesia memang telah bersetubuh dan terurai dengan bahasa-bahasa ajaib lainnya. Bahasa yang tidak tau dari mana datangnya dan mulai lazim digunakan. Dan pertanyaan tiba-tiba hadir, bagaimana nasib bahasa Indonesia kedepannya ya? Apakah kita rela kehilangan keaslian bahasa Negara kita ini. Seakan memberontak, aku berteriak lantang.. “Tidak”, dalam hati. Dengan angan yang masih melayang, aku membuat janji dengan diriku sendiri. Kelak aku ingin menyelamatkan Bahasaku, bahasa Indonesia. Janjiku juga pada Indonesiaku. J

Teruskanlah

"Selamat Pagi sayang. Selamat beraktivitas."

Sebuah pesan singkat samar-samar kubaca. Ku lirik jam wekker disamping tempat tidur. 05.30. Masih cukup pagi.
Kembali kupejamkan mata, membawa segala pertanyaan dan gejolak rasa yang ditimbulkan pesan singkat barusan.

Entah kapan kali terakhir pesan serupa aku terima. Pesan yang 6 bulan lalu tidak pernah telat dikirim. Pesan yang 6 bulan  lalu menjadi sajian hangat tiap pagi. Pesan yang 6 bulan lalu selalu menghadirkan sumber energi untuk menjalani rutinitas seharian.

Namun itu 6 bulan lalu. Sebelum cerita cinta yang kita jalin selama 3 tahun berujung pada keputusan "Long Distance". Tidak ada yang salah dengan pilihanmu mengejar cita-cita keluar kota. Toh jarak dari kota tempatmu melabuhkan mimpi tidak jauh dari kota kelahiran kita. Cuma butuh 6 jam perjalanan. Kupikir kita masih bisa bertemu, setidaknya sebulan sekali.

Dan ternyata semua tak semudah bayangan kita. Janji manis menjelma luka. Semua berubah. Hari-hari berjalan hambar. Tanpa panggilan sayang, tanpa perhatian, tanpa peluk cium nina bobok.

Mimpimu telah mengantikan posisiku. Tidak ada aku lagi di penglihatanmu, sentuhmu, senyummu, khayalmu, dan mungkin perlahan terhapus dari hatimu. Kamu terlalu sibuk dengan duniamu, dunia tanpa aku. Aku mulai tak mengenal sosokmu, kamu menjelma orang asing dimataku. 

Bisa dihitung, berapa kali kamu membalas pesan singkatku. Berapa kali kamu menelponku, berapa kali kamu menemuiku dalam 6 bulan terakhir ini. Dengan alih-alih sibuk, kamu terus menjauh. Selalu aku yang kamu anggap salah. Aku yang kamu tuduh tak mampu memahami kesibukanmu. Sungguh perih, bertahan tanpa arti.

Namun aku terus bersabar. Sabar menunggu detik dimana memorimu menggingat keberadaanku kembali.
"Sebagian orang berkata bahwa menunggu adalah perbuatan bodoh. mungkin orang-orang itu belum mengenal efek dari cinta."

Jika menunggu adalah cara terbaik untuk mendapatkan cintamu kembali, maka berapa lama aku harus melakukannya?

Agnes Monica, Teruskanlah.

Jumat, 13 Desember 2013

Sekadar Mengenang

Aku tidak pernah benar-benar menghapusmu. Tidak pernah. Raga kita mungkin jelas berpisah. Ikatan kita pun mungkin terlepas sudah. Tapi kamu masih ada. Disini, jauh dalam dihatiku. Kamu mungkin bisa melupa. Melupakan aku dan menghapus rasa dalam sekejap saja. Namun tidak begitu denganku. Masih namamu yang terindah. Masih sosokmu yang senantiasa aku rindukan. Mungkin ini gila, namun sungguh cinta bukan tentang teori ini itu. Bukan masalah yang bisa dipecahkan dengan matematika atau diselesaikan dengan logika. Cinta ini rasa. Dia ada, dia nyata. Apapun yang dihadirkan sesudahnya.. entah air mata atau tawa.. semua itu nyata.

Cinta ini bukan sekedar saja ada. Sekali melihat langsung jatuh cinta.. tidak sesederhana itu.. cinta ini berproses.. lama.. tumbuh dan mekar dengan sendirinya..

Kamis, 12 Desember 2013

Cinta (Tidak) Buta


Hujan baru saja berhenti di luar, menyisakan senja dan langit yang tampak melebar, meluas, membekas pada dahan-dahan pohon, dan helai-helai daun. Seketika semerbak wanggi bunga melati memenuhi udara, harum khas beriring kesegaran selepas hujan. Di sini kita biasa menghabiskan sore bersama, mengeja adegan demi adegan yang kita perankan. Tertawa lepas dan kemudian saling melempar kata sayang. Walau kita tahu ini salah, tapi kita tidak pernah menyesali takdir yang ada.
“Coklat hangat untuk sore yang dingin.” Sembari menyodorkan segelas coklat hangat, kamu mengambil posisi disebelahku, mengulum senyum manis yang selalu aku rindukan.
            Lama kita saling diam, senja selepas hujan mencipta lorong panjang yang terhubung dengan kenangan. Pikiran tergelitik untuk mengingat kejadian 3 bulan lalu. Menunggu hujan reda menjadi moment kita. Saat itu kamu duduk sendiri. Kulit putihmu pucat kedinginan, bibir tipismu membiru, dan tubuh rampingmu mengigil. Aku mendekat, menawarkan jaket. Perkenalan kita berlanjut sebuah jalinan terlarang.

            Jika mereka bilang cinta itu buta. Mungkin benar adanya. Mata kita memang telah buta. Tak mampu melihat yang sewajarnya. Namun tidak dengan hati kita, kita melihat yang orang lain tak mampu lihat. Kita menemukan ketulusan dan kenyamanan. Jalinan cinta dua pria memang terdengar salah. Tapi cinta tak pernah salah..

Rabu, 11 Desember 2013

Cerita Cinta Dea

“Bruukk”. “Praaggg”.
“Aduh. Kalau jalan hati-hati donk!! Teriak Dea sambil memunggut Hpnya yang jatuh.
“Maaf, aku lagi buru-buru. Sekali lagi maaf”.
“Enak aja cuma bilang maaf. Hpku rusak gini dan kamu cuma bilang maaf. Ini Negara hukum tau!!” Dea terus meneriaki cowok berkaca mata yang ada didepannya.
“Ini kartu namaku, hubungi aja aku, nanti aku ganti biaya perbaikannya. Maaf banget, aku lagi buru-buru.” Cowok itu menyerahkan selembar kartu nama dan segera berlalu meninggalkan Dea yang masih terlihat geram.
Dea masih diam di tempat, saat bayang cowok itu menghilang dibelokkan. ‘Reza Firmansyah’. Dea mengeja nama yang tertera di kartu nama yang ada ditangannya. Mahasiswa sini ya? Kok aku gak pernah liat. Ya udahlah, yang jelas tuh cowok  udah bikin Hpku rusak. Tapi sebenernya tuh cowok manis juga. Ahh, apa-apaan sih aku ini.
***
“Kamu kemana aja sayang? Aku telpon nomer kamu gak aktif”. Tanya Remi cemas.
“Hpku rusak sayang. Kemaren jatuh”. Jawab Dea singkat sambil mengambil tempat di samping Remi.
“Ohh, ya udah. Nanti malam ada acara? Aku mau ngajak kamu makan malam”. Tanya Remi sambil mendaratkan ciuman manis ke punggung tangan Dea.
“Gak ada sayang”.
“Oke, nanti kamu dandan yang cantik. Pakai gaun yang kemaren aku beli’in. Jam 7 aku jemput kamu ke rumah”. Remi menatap mata Dea lekat dan tangannya masih menggegam erat tangan Dea.
“Emang kita mau makan malam dimana? Kenapa mesti pake gaun sih sayang?” Tanya Dea heran.
“Udah, kamu tenang ajah. Ini malam special buat kita.” Sekali lagi ciuman mendarat dipunggung tangan Dea.
***
Astaga.. Hari ini tanggal 13 Desember. Pantas saja Remi ngajak aku makan malam. Kenapa bisa lupa sih. Tapi hebat Remi masih inget hari jadian kita yang ketiga. Remi memang pacar yang sempurna dimataku.
Sudah tiga tahun sejak perkenalan kita dulu. Remi cowok yang masuk criteria tampan ini adalah kakak kandung temanku, Fitri. Dan dari Fitri juga aku kenal Remi. Remi baru saja menyelesaikan kuliahnya dan sekarang sedang mengurus beberapa Cafe yang dia dirikan bersama beberapa temannya. Selama jalan tiga tahun ini, Remi selalu memberi kesan baik padaku. Remi cowok yang romatis dan sabar, tentunya juga dewasa. Tapi Remi tidak membosankan seperti cowok dewasa kebanyakan. Meski aku yang emosional ini sering mudah marah, namun Remi tetap bersabar dan mampu meredam kemarahanku. Aku sangat menyayanggi Remi, dan sepertinya begitu juga dengan dia.
***

Alunan musik jazz beralun merdu saat aku dan Remi memasuki sebuah Cafe. Sepi, hanya ada beberapa pelayan yang menyambut kedatangan kami dan para pemain musik yang sedang asik memainkan musik jazz disana. Lampu remang-remang berhias cahaya lilin. Benar-benar suasana yang romanstis. Aku memandang Remi penuh takjub dan Remi hanya tersenyum manis sambil terus mengandeng tanganku.
Remi mempersilahkan aku duduk. Dan kami pun duduk berhadapan.
“I love you”. Sebuah kecupan mendarat di punggung tanganku.
“I love you too sayang. Thanks for all”. Jawabku memberikan senyum termanis yang aku punya.
Benar saja, seperti janji Remi. Malam itu menjadi malam terindah bagi kami.
***
Aku Dea, yang minggu lalu Hpnya kamu jatuhin.
*Send.
Tidak butuh waktu lama sampai pesan tersebut mendapat balasan.
Iya Dea, gmn Hpnya udah bisa? Gini aja nanti kita ketemu di Blue Cafe jam 3.
Kamu bisa?
Oke. Jawabku singkat.
Setelah pulang kuliah, aku langsung mampir ke Blue Cafe.
Seorang cowok berkaca mata terlihat dari candela kaca cafe sedang menyeruput kopi dari sebuah cangkir mungil. Dea segera menghampiri cowok tersebut. Cowok tersebut segera beranjak dan menyalami Dea.
“Reza” Ucapnya sambil menyodorkan tangan.
“Dea” Jawab Dea ketus.
Cowok tersebut tersenyum manis dan mempersilahkan Dea duduk. Ada rasa aneh menyelusup sejenak dalam hati Dea, namun Dea buru-buru menepisnya.
Pertemuan sore itu berujung pertemanan. Beberapa kali Reza mengantarkan Dea ke toko buku, atau sekadar minum kopi bersama di sore hari. Belakangan Dea baru tau kalau Reza sedang menjalani training menjadi pilot. Reza punya mimpi ingin mengajak orang yang dia cintai berkeliling dunia, itu sebabnya dia berusaha menjadi pilot.
***
Sialan, lagi-lagi telat. Pekik Dea dalam hati.
Dea berlari menyebrang jalan menuju kampusnya. Dan tiba-tiba…
Tiiiittttt…. Bruuukkkkkk……
Dea tersungkur dengan kepala penuh luka darah.
***
Gelap.
Dimana ini, aku ingin pulang. Aku takut. Tolong aku, tolong aku…
Perlahan Dea membuka mata. Bayang samar-samar ibunya terlihat. Namun semua hanya serupa bayang. Dea berusaha mempertajam pandangannya, namun sia-sia. Hanya bayang yang mampu tertangkap matanya.
“Dea sayang, kamu gak papa nak?” Suara bercampur isak ibu Dea penuh cemas.
“Bu, Dea gak bisa liat apa-apa bu. Semua gelap. Ibu Dea takut bu, Dea takut. Ini kenapa bu. Kenapa mata Dea bu.” Dea menanggis histeris meraba-raba mencari ibunya.
“Tenang sayang tenang. Ada ibu disini.” Ibu Dea berusaha menenangkan.
Arrrggghhhhhhhhhhhhh.
“Dea kenapa bu Dea kenapa?” Dea semakin berteriak histeris, air matanya tak henti berjatuhan.
***
Sejak keluar dari rumah sakit beberapa hari lalu, Dea menjadi semakin pendiam. Dea juga tidak mau menemui siapapun kecuali ibunya. Setiap harinya Dea hanya mangurung diri dikamar. Terus menanggisi takdir yang ia terima.
“Maaf Dea, kita udah gak bisa lagi. Maaf.”
Ucapan terakhir yang dia dengar dari Remi. Sejak tau bahwa Dea buta, Remi seperti berusaha menghindar dari Dea. Dea pun tidak bisa berbuat apa-apa, merelakan Remi pergi adalah jalan satu-satunya. Meski sungguh hati Dea hancur berkeping-keping. Setelah ia kehilangan penglihatannya sekarang ia juga kehilangan cinta dari orang yang ia cintai.
***
“Dea sayang, ada teman kamu datang.” Ucap ibu Dea, menghampiri Dea yang sedang duduk menghadap jendela kamar.
“Dea ingin sendiri bu.” Jawab Dea.
“Kamu gak boleh terus seperti ini sayang. Kamu harus mulai berusaha hidup normal. Namanya Reza, katanya dia sudah berkali-kali menghubungi kamu tapi gak ada jawaban. Lebih baik kamu temui dia.” Bujuk ibu Dea.
Ibunya benar, mau sampai kapan Dea begini. Dea pun mengangguk menyetujui saran ibunya.
“Hai Dea, apa kabar?” Seorang cowok memasuki kamar Dea.
“Seperti yang kamu lihat. Tidak cukup baik.” Jawab Dea datar.
“Aku bawa sesuatu buat kamu.” Cowok tersebut menaruh sebuah kotak diatas tangan Dea.
“Apa ini?” Tanya Dea.
Cowok tersebut pun membuka kotak, mengambil isinya dan mengalungkan sebuah syal berwarna merah marun ke leher Dea.
“Syal?” Dea meraba syal yang ada di lehernya.
“Iya syal berwarna merah, agar kamu terus merasa hangat dan berani menjalani hari-hari kamu kedepanya. Kamu gak sendiri Dea, gak akan pernah.” Cowok itu membelai rambut Dea dan mencium keningnya.
Hari-hari berikutnya, hanya Reza yang setia menemani Dea di sela-sela kesibukannya. Reza yang mampu membuat Dea kembali tegar dan menjalankan kembali kehidupan seperti dulu. Reza yang mengajarkan Dea untuk mengiklaskan segala sesuatunya, mempercayai bahwa Tuhan tau apa yang terbaik untuk hambaNya.
***
Hari ini Reza menemani Dea jalan-jalan di taman.
“Sore yang indah ya? Coba kamu rasakan hembusan angin, suara burung, dan tawa orang-orang disekitar kamu.” Reza memejamkan mata dan menarik nafas dalam-dalam.
Dea mengikuti saran Reza. “Iya. Sore yang indah, meski aku gak mampu melihat keindahannya, tapi setidaknya aku mampu merasakannya.” Jawab Dea dengan seulas senyum menghias bibirnya.
“Dea, ada yang ingin aku sampaikan.” Ucap Reza lembut dengan tangan mengenggam kedua tangan Dea.
“Apa?”
“Aku sayang kamu. Aku ingin kamu yang menemaniku berkeliling dunia. Kita akan merasakan keindahan dunia bersama.” Reza tampak serius.
Namun tak ada jawaban yang keluar dari bibir Dea, hanya air mata yang tiba-tiba merembes dari bola matanya.
“Kenapa kamu menanggis Dea? Kamu tidak suka aku berkata demikian?” Reza mengusap air mata yang meleleh di pipi Dea.
“Kamu tau aku gak sempurna. Kamu pantas dapat yang jauh lebih baik dari aku.” Jawab Dea menahan tanggis.
“Cinta itu sederhana Dea, kita cuma perlu merasakan dan mengikuti kata hati kita. Hati tau kemana ia harus berlabuh. Cinta gak nuntut kesempurnaan. Cinta akan mengenapi segala yang ganjil.” Reza berusaha menyakinkan Dea.
Dea tersemyum manis. Ada kesejukan mengisi relung hatinya. Dan sebuah ciuman mendarat di keningnya.
***
“Apa?” Dea tersentak mendengar kabar yang baru saja ia dengar. Air matanya meleleh, tubuhnya bergetar. Rasanya rohnya tercabut dari raganya. Hatinya benar-benar sakit.
“Sabar sayang.” Ibu memeluk Dea erat.
“Cobaan apa lagi ini bu. Kenapa Reza ninggalin Dea secepat ini, bahkan Reza belum sempat ngajak Dea keliling Dunia.” Dea memeluk ibunya erat, menumpahkan segala ketakutan dan rasa sakit hatinya.
“Sabar sayang, ini bagian dari rencanaNya. Kamu harus kuat, harus ikhlas.” Air mata mengalir dari kelopak mata ibu, seperti ikut merasakan kesedihan anaknya.
Reza kecelakaan saat penerbangan pertamanya. Pesawat lepas kendali dan jatuh di dasar tebing.


‘Tak usah sedih, kita pasti akan bertemu disurgaNya’